Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam KLP 5
Di Sulawesi Selatan tepatnya di Kab Bone terdapat sebuah tradisi yang dimana tradisi ini sudah menjadi sebuah fenomena khusus yang sering dilaksanakan pada waktu tertentu, yaitu Mappassempe yang dimana tradisi ini dilakukan pada setiap tiga tahun sekali.
Di suasana pagi yang sejuk, hamparan sawah terpampang jelas di halaman belakang rumah yang bagaikan istana yang megah. Akbar barusan saja terbangun dari tidurnya yang begitu nyenyak semalam. Senyumannya terpancar memandang mentari yang mengintip dari kejauhan.
Setelah lama menikmati indahnya pagi, Akbar akhirnya bergegas keluar untuk berjalan-jalan di pinggiran sawah yang masih terasa basah akibat embun pagi. Akbar sendiri merupakan orang baru di Desa Carebbu, kebetulan pamanya yang mengajak dirinya untuk tinggal sementara waktu di sana, karena kedua orangtua Akbar tengah merantau ke pulau Sumatera.
Di saat Akbar tengah bermain dengan ikan-ikan sawah, tiba-tiba terdengar suara orang terjatuh, lalu dengan sigap Akbar pun langsung bergegas menolongnya, Akbar pun akhirnya menolong orang terjatuh tersebut dan menyapanya.
"Mba, enggak apa-apa?"
Seketika orang tersebut merasa sedikit malu dan kaget, karena dia juga merasa heran karena barusan melihat Akbar di Desa tersebut.
"Dia siapa ya, kok aku baru liat," ucap dalam hatinya penasaran.
Wanita ini pun akhirnya berdiri sambil di bantu oleh Akbar, mereka berdua pun saling bertatapan satu sama lain, dan akhirnya berkenalan.
"Ohya ... nama, Mba siapa?"
"N-nama saya ... Nisa, Kak," ucapnya dengan gugup.
Jantung Nisa pun berdetak dengan kencang, dan nafasnya pun serasa naik turun, dia merasa malu dengan Akbar, namun di sisi lain dia juga merasa senang karena bertemu dengan laki-laki yang telah menolongnya.
"Ohya, Nisa mau kemana?"
"Nisa mau pulang, Kak."
"Oh ... kalau gitu biar aku antarkan."
"Udah, enggap apa-apa kok, Kak ... Nisa bisa jalan sendiri."
"Oh, yaudah kalau begitu."
Nisa pun akhirnya merangkakkan kakinya dengan perlahan, namun baru tiga kali melangkah, dia pun langsung terjatuh. Akbar yang melihat itu pun langsung dengan sigapnya kembali menolong Nisa.
"Sudah aku bilang, biar aku antarkan," ucapnya dengan menatap mata Nisa.
"Emangnya, enggak ngerepotin, Kak?"
"Udah sanjai aja."
Akbar pun akhirnya menggendong Nisa pulang, ditengah perjalanan mereka berdua asik bercerita tentang pengalaman dan hal yang mereka sukai, sampai-sampai tidak terasa, mereka sampai di depan rumah Nisa.
"Yaudah, Kakak masuk dulu," ajaknya.
"Iyah, lain kali saja, lagian ada yang mau aku kerja dulu."
"Oh, gitu ya ... kalau gitu, makasih ya, Kak."
"Iyah, sama-sama ... lain kali kamu hati-hati," ucapnya dengan perhatian.
"Iyah siap, Kak."
Nisa pun lalu berjalan untuk masuk ke dalam rumah, sebelum masuk kedalam rumah, tanpa disengaja Nisa melihat banyak sekali sandal di depan rumahnya, itu pertanda berarti sedang ada tamu di dalam rumahnya. Nisa pun langsung masuk ke dalam rumah, terkejutnya Nisa ketika melihat Panji dan kedua orang tuanya tengah berbincang ria dengan kedua orang tuanya. Tanpa berbasa basi Nisa lalu berjalan untuk menuju ke kamarnya.
Ketika Nisa melangkahkan kakinya dengan cepat tiba-tiba dia terjatuh kembali, Panji yang kaget akhirnya langsung menolong Nisa dengan sigap.
"Nisa, kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
"Aku, enggak apa-apa kok," ucapnya dengan sedikit cuek.
"Oh, yaudah ... mari aku bantu."
Panji pun akhirnya membantu Nisa untuk bangun dan ikut duduk bersama mereka. Kedua orang tua Nisa dan Panji pun tersenyum bahagia melihat ke akraban mereka berdua.
"Wah, ternyata kalian udah akrab ya," ucap Ayah Panji.
"Iyah, udah kaya pasangan suami istri saja," tambah Ibunya Panji.
"Yah, kan memang harus seperti itu, Bu," tambah lagi oleh Ibunya Nisa.
"Mereka berdua memang cocok, Puang ... apalagi ketika mereka berdua nanti telah dipersatukan," timpal Ayahnya Nisa.
Mendengar hal itu Nisa pun langsung berbicara dan merasa tidak enak dengan obrolan tersebut. Namun beda dengan Panji yang merasa sangat bersyukur karena kedua orang tua mereka telah saling merasa setuju dengan kelanjutan hubungan mereka berdua.
"Maksud, Papah apa ya?" tanya Nisa, dengan dahi mengkerut.
"Hmm ... maksud dan tujuan kedatangannya, Nak Panji dengan kedua orangtuanya, yaitu untuk melamar kamu, Nak," ucapnya dengan perasaan bahagia.
Mendengar ucapan Ayahnya, Nisa pun langsung berdiri dan langsung menolak lamaran tersebut. Panji yang mendengar penolakan itu langsung merasa malu, dan kaget. Dia tidak menyangka lamarannya harus di tolak mentah-mentah oleh Nisa.
Dari cerianya suasana barusan, tiba-tiba langsung berubah menjadi suasana yang hening, mereka semua hanya bisa terdiam dan heran melihat sikap Nisa, Ayah Nisa pun spontan langsung merasa malu di hadapan kedua orang tua Panji. Ibunya pun langsung menegur Nisa, agar tidak berlaku seperti itu.
"Nisa, duduk jangan begitu," tegur Ibunya dengan nada pelan.
"Maaf, Bu ... Nisa enggak bisa," ucapnya dengan tatapan dingin.
Nisa pun akhirnya berjalan menuju kamarnya dengan terpincang-pincang, di sisi lain Ayahnya hanya bisa menunduk dan merasa malu atas apa yang telah terjadi. Kedua orang tua Panji yang merasa kesal akhirnya berpamitan pulang dengan wajah yang penuh amarah.
"Yasudah, kami pulang dulu!"
"Kami minta maaf sebelumnya pak, atas kelakuan putri kami," ucapnya dengan merasa bersalah.
Diperjalanan pulang, Panji merasa tidak yakin dengan apa yang telah terjadi, dia tidak menyangka ternyata lamaranya harus di tolak oleh Nisa, kini perasaanya hancur berkeping-keping rasa amarah dan kecewa sekarang tengah menyelimuti jiwanya.
"Aku harus cari tau, apa yang membuatmu harus menolakku, Nisa," ucap dalam hatinya yang paling dalam.
Ditengah mendungnya langit yang berwarna abu-abu, karena diselimuti tumpukan awan yang berisi air, Nisa yang merasakan pedih dalam hatinya, kini hanya bisa terbaring sambil menangis meratapi kepedihannya.
Sang Ayah yang sudah terlanjur malu dan marah, akhirnya mendatangi Nisa di kamarnya, dan melontarkan arahan kepada Nisa.
"Nisa, Papah ingin kamu menikah dengan, panji ... panji sudah, Papah anggap seperti keluarga sendiri, ayahnya telah banyak membantu, Papah ... mau ditaruh dimana muka, Papah, Nisa ...!"
Sang Istri pun langsung menenangkan Suaminya yang terlanjur marah, dia juga tidak tega ketika melihat Nisa harus dimarahi seperti itu.
"Sudah-sudah cukup, Pah ... biarkan, Nisa menenangkan pikiran dulu."
Ayahnya begitu sangat marah, dan nafasnya pun naik turun. Tatapan Ayahnya begitu tajam menatap Nisa.
"Pokonya, Papah enggak mau tau, kamu harus menikah dengan, panji ...!"
Ayahnya pun lalu keluar dengan langkah yang cepat. Sang Ibu yang tentu lebih paham dan tau mengenai perasaan Sang anak, akhirnya mendekati Nisa dengan perlahan dan duduk di sampingnya, Ibunya pun lalu memegang pundak anaknya. Spontan Nisa langsung terkejut dan berbalik menatap Ibunya, setelah itu Nisa pun langsung bangkit dari baringnya, dan memeluk Ibunya dengan erat sambil menangis.
"Bu ... papah, Bu," ucapnya dengan isakan tangis.
"Sudah, sudah, kamu jangan nangis lagi ya, Nak ... insyaallah besok, papah enggak marah lagi, kok," perhatian dari Ibunya.
Nisa pun hanya bisa memeluk Ibunya dengan merasakan kehangatan dari pelukan sang Ibu.
Di pagi hari yang cerah berikutnya, Nisa nampak tengah duduk di sebuah ayunan di sebuah pinggiran sawah yang begitu sejuk, tatapan Nisa nampak seperti kosong yang hanya menatap ke depan, dan meratapi segala apa yang telah terjadi kemarin pada dirinya. Namun tanpa disangka-sangka Akbar langsung mengagetkan dirinya dari balik pohon yang ada di belakangnya, dengan memberikan Nisa sebuah rumput sebagai bunga.
"Hai ... kok bengong ... ada yang dipikirkan ya?"
"Hmm, makasih ya bunganya," ucapnya tersenyum.
"Oh iya, kalau aku perhatikan, kamu seperti ada masalah ... cerita aja sama aku, aku siap kok, jadi pendengar terbaik kamu," ucapnya dengan sedikit gombalan.
Nisa pun hanya tersenyum dan menatap Akbar dengan tatapan penuh cinta, zaman hari demi hari berganti, waktu yang semakin berjalan, membuat pertemuan pertama mereka bagaikan benih yang pada akhirnya tumbuh dan semakin tumbuh, dan berbuah menjadi cinta. Nisa merasakan ada kenyamanan ketika berada di dekat Akbar, sikap sopan dan humor Akbar lah yang membuat Nisa jatuh cinta.
Tanpa berlama-lama akhirnya Nisa pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini, dengan berat hati Nisa terpaksa harus mengatakan yang sebenarnya.
"Sebenarnya, kemarin setelah kamu udah ngantar aku pulang, sahabat ayah aku dan anaknya, panji datang kerumah ... dan kamu tau apa yang membuat aku sedih untuk sekarang?" ucapnya dengan menoleh ke atas langit.
"Hmm ... emangnya ada apa?" tanyanya penasaran.
"Mereka datang membawa lamaran."
Setelah mengetahui yang sebenarnya Akbar langsung merasa syok dan merasakan pahit pada dirinya, baru pertama kali dia kenal dan sedikit akrab dengan Nisa, tiba-tiba dia kini harus dilamar oleh orang lain. Akbar hanya bisa terdiam merasa tidak ikhlas atas lamaran tersebut, namun Akbar mencoba untuk menenangkan diri dan perasaannya, bahwa dengan mengingat Tuhan dan segala kekuasaannya, pasti ada rencana yang terbaik yang Allah hadirkan untuk hambanya.
Akbar pun tetap berusaha tersenyum dan tidak memperlihatkan rasa sedihnya pada Nisa, dia tetap berusaha menghibur Nisa, agar tidak terpuruk akan keadaan yang hadir.
Ditengah pembicaraan mereka berdua yang asik, tiba-tiba terlihat Panji yang sedang melihat-lihat mereka di balik pohon yang lain, Panji yang melihat itu merasa iba dan bersedih, ternyata Nisa menolak lamaranya karena ada laki-laki lain yang dia sukai selama ini. Selain itu Panji juga merasa heran dengan Akbar yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, di dalam hatinya bertanya-tanya perihal Akbar yang sebenarnya.
"Siapa ya laki-laki itu," ucapnya dengan sedikit geram.
Tanpa menunggu lama, di malam yang gelap dan sunyi di desa Carebbu, Panji yang tengah bersiap-siap yang nampak tengah menggunakan pakaian yang sangat rapi di depan cermin, tatapannya begitu tajam dan antusias di malam itu. Tanpa berlama-lama Panji pun akhirnya keluar dengan membawa wajah yang ber amarah, dia pun keluar tanpa berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Panji, kamu mau kemana?"
Sampai-sampai sapaan Ayahnya pun tidak ia hiraukan, Ibunya yang barusan saja keluar membawakan secangkir kopi untuk Ayahnya, merasakan sedikit ada yang aneh pada anaknya, dan rasa khawatirnya pun hadir sedikit demi sedikit dalam perasaanya.
"panji kenapa, Pah?"
"Sudah, namanya juga laki-laki ya begitu," ucapnya santai.
Ditengah perjalanan Panji pun menanyakan keberadaan Akbar di semua orang yang ia temui di jalan. Sampai pada akhirnya Panji menanyai orang yang sangat tepat dan mengetahui keberadaan Akbar, yaitu Wanto Pamannya Akbar sendiri.
"Tabe Puang, tau rumahnya akbar?"
"Oh akbar."
"Iyah, Puang."
"Tentu tau lah, akbar kan ponakan paman," ucapnya tersenyum.
"Oh begitu ya," dalam hati Panji pun merasakan senang karena tidak lama lagi dia akan bertemu dengan sosok Akbar yang telah meluluhkan hati Nisa.
Pak Wanto lalu mengantarkan Panji untuk bertemu dengan Akbar, tidak lama kemudian Panji pun akhirnya sampai kerumah Pak Wanto, mendengar kedatangan Pamannya Akbar pun langsung bergegas keluar, namun betapa terkejutnya Akbar ketika melihat seorang laki-laki yang tengah bersamanya.
"Oh iya, kalian berdua duduk aja dulu ya, silahkan ngobrol-ngobrol dulu," ucap Pak Wanto.
Panji dan Akbar pun akhirnya bertemu dan saling menatap satu sama lain, tidak lama kemudian Panji langsung mengulurkan tanganya sebagai tanda perkenalan dengan Akbar, Akbar pun membalas salam itu dan kedua tangan mereka pun saling berjamak tangan sebagai kawan.
"Kenalkan, saya Panji."
"Oh iya, salam kenal, saya Akbar."
Ketika mengetahui nama satu sama lain, Panji pun akhirnya mengutarakan segala luapan hati yang terpendam, dan Panji berniat untuk bisa menyelesaikan masalah ini segera.
"Oh iya, Anda mungkin sudah tau kan, siapa saya dan kaitannya saya dengan nisa?"
Mendengar ucapan itu Akbar hanya bisa terdiam, dan berusaha untuk tetap tenang dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Panji, dengan sedikit tarikan nafas kemudian Akbar menjawab pertanyaan itu.
"Iyah, saya sudah tau bahwa Anda adalah laki-laki yang telah melamar, nisa."
"Iyah betul sekali ... namun, nisa menolak lamaran saya ... namun setelah saya cari-cari ... ternyata, nisa telah menaruh hati kepada Anda."
"Apa yang membuat Anda yakin dengan, ucapan Anda itu?" tanyanya penasaran.
Panji pun tersenyum dan menatap Akbar lalu menjawabnya. "Saya tau, dari cara, nisa tersenyum dan menatap Anda, bahwa nisa mencintai Anda.
Mendengar pernyataan dari Panji perasaan Akbar merasa tidak karuan, dan sedikit merasa tidak menyangka ternyata pertemuan yang singkat dapat berbuah cinta yang dalam.
"Oh iya ... dua Minggu yang akan datang, Desa Carebbu kini akan kembali melaksanakan acara tahunannya, yang disebut mappassempe, yang merupakan pertarungan satu lawan satu."
Mendengar ucapan Panji, Akbar merasa semakin penasaran dengan maksud dan tujuan Panji menemuinya.
"Lalu apa hubungannya dengan Anda, memberitahukan hal itu kepada saya?"
Panji pun lalu berdiri dan berjalan berbolak balik, di depan Akbar sambil merangkul tanganya ke belakang.
"Maksud dan tujuan saya kesini, ingin mengajak Anda ikut serta dalam pertarungan tersebut ... sebagai pemuda Bone yang sejati, saya harap Anda bisa membuktikannya di pertarungan tersebut," ucapnya pelan namun tegas.
"Apa yang membuat Anda mengajak saya untuk bertarung di acara festival tersebut?"
"Hitung-hitung saya ingin melatih kembali ilmu bela diri saya, dan mengikrarkan sebuah janji yang harus di tepati untuk kita berdua."
"Janji apakah itu?"
"Siapapun diantara kita nanti yang akan menang, berhak untuk memilki Nisa, namun siapapun diantara kita yang mengalami kekalahan, jangan pernah berharap untuk memilki Nisa."
Mendengar ucapan perjanjian dari Panji, Akbar merasakan keraguan dalam hatinya, dirinya tidak ingin harus bertarung hanya demi seorang wanita, karena baginya pertarungan hanya membuahkan kebencian semata.
"Maaf saya tidak bisa."
"Kenapa ...? Anda takut ...? jangan jadi pengecut!"
"Saya hanya tidak ingin bertarung hanya dengan persoalan wanita!"
"Oh begitu, ternyata mental Anda lemah, Anda tidak sanggup untuk memperjuangkan satu orang ... dan bagaimana halnya nanti ketika beribu atau bahkan berjuta orang membutuhkan perjuangan Anda ...? apa yang akan Anda lakukan? apakah Anda akan lari juga? menyerah sebelum memperjuangkan, begitu ...?"
Mendengar ucapan dan pancingan dari Panji, Akbar pun tidak bisa menahan luapan emosinya, dan pada akhirnya Akbar pun menyetujuinya.
"Baik, saya terima tantangan, Anda ...!"
Dengan tersenyum, Panji pun sangat menghargai penerimaan tantangan dari Akbar. "Saya tunggu kedatangan, Anda."
Mereka berdua pun kini kembali berjabak tangan, namun kini versinya berbeda, kini mereka bersalaman bukan sebagai kawan melainkan sebagai lawan. Mereka tidak pernah membicarakan persoalan ini kepada keluarga masing-masing karena mereka paling anti dengan ucapan Mappicceng yang artinya mengadu.
Mappassempe sendiri merupakan sebuah ajang bagi setiap kaula, baik orang tua, anak muda, bahkan sampai anak-anak, untuk melakukan sebuah pertarungan, mereka sering ikut ajang ini, namun yang menjadi pembeda, pertarungan ini dimulai apabila ada salah satu pemain menepukkan tangan seraya mengajak lawan untuk bertarung yang disebut mappale, beda pada tarung biasanya seperti tinju dan MMA, yang dimana memang telah ditetapkan lawan sebelumnya.
Dan akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu Panji pun akhirnya tiba, disini Panji sangat antusias menunggu kedatangan Akbar, sesekali Panji melihat di sekeliling penonton dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Akbar di sana, dan Panji berharap agar Akbar tidak lari dengan ucapannya.
"Saya berharap, Anda tidak lari, Akbar," ucapnya pelan.
Tidak lama kemudian akhirnya Akbar datang dan meladeni tepukan itu yang artinya menerima pertarungan itu. Dan pada akhirnya mereka pun saling bertatapan, Panji pun tersenyum dan merasa senang ternyata Akbar tidak ingkar dari ucapanya, Panji pun lalu mengulurkan tanganya dan menarik Akbar naik ke atas ring pertarungan.
Sebelum bertarung mereka pun saling bertatapan sambil mengumpulkan kekuatan serta ancang-ancang masing-masing, setelah lama bertatapan mereka pun akhirnya bertarung habis-habisan, satu teriakan menyebut nama, membuat penonton menikmati awal pertarungan mereka dengan semangatnya.
"Akbaaar ...!"
"Panjiii ...!"
Pada tendangan terakhir yang mereka ingin lancarkan, Akbar melihat sedikit celah yaitu menuju pelipis Panji, namun dia merasa ragu, apabila tendangannya berhasil bisa saja dia akan mencelakakan Panji, namun apabila tendangannya gagal malah dialah yang akan celaka, namun satu tarikan nafas yang dalam dan pejaman mata dan berusaha menenangkan perasaanya, akhirnya Akbar pun melancarkan tendangannya yang keras tersebut menuju pelipis Panji, Panji yang tak sigap menahan tendangan Akbar yang begitu cepat dan bertenaga, akhirnya membuat Panji pun terjatuh.
Dan wasit yang melihat itu pun akhirnya menanggapi bahwa Panji telah kalah dalam pertarungan, karena sudah tak sanggup lagi untuk berdiri, dan akhirnya yang menjadi pemenang adalah Akbar. Namun melihat keadaan Panji yang tak kuat bergerak, Akbar pun dengan cepat langsung menghampirinya dan merangkulnya. Nisa yang juga ikut menyaksikan pertarungan itu pun, mendekati Panji dan memangkunya serta mengelus kepalanya.
"Kenapa harus begini," ucapnya menangis.
Di mulut Panji yang berlumuran darah, dirinya masih sempat untuk tersenyum dan mengucapkan selamat atas kemenangan Akbar.
"S-selamat ya, Akbar ... kamu memang hebat," ucapnya terbata-bata.
"Saya tidak akan pernah memaafkan diri saya atas pertarungan ini," ucapnya merasa bersalah.
"Saya sangat bersyukur bisa bertemu, kawan sepertimu, yang tidak lari dari perjanjian ... apalah arti kemenangan apabila dinyatakan menang tanpa melakukan apapun, namun berartilah kekalahan apabila ada usaha dan tanggungjawab jawab di dalamnya.
Mendengar hal itu, Akbar pun merasa lebih bersemangat dan mampu menemukan jati dirinya yang sebenarnya, bahwa ingkar atau lari dari ucapan, atau sering juga di katakan sebagai dusta, hanyalah perbuatan yang dapat memperburuk sebuah keadaan.
Ditengah-tengah rasa sakit yang di rasakan oleh Panji, dirinya pun langsung memegang tangan Akbar dan Nisa, dan meletakkanya di atas dadanya sambil mengungkapkan perjanjian yang telah diikrarkan sebelumnya.
"Akbar, kamu pemenangnya, kamu berhak memilki Nisa ... dan aku tak memiliki hak lagi untuk memiliki Nisa." Panji pun lalu menatap Nisa dan melanjutkan kembali ucapannya. "Nisa ... aku yang akan mencabut lamaran itu ... selamat ya pangeranmu telah berhasil memperjuangkanmu."
Nisa hanya bisa menangis melihat semua ini.

0 Comments