Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam
Dikala kesunyian malam yang mencekam serta suara burung pengiring malam yang bersua, malam yang seharusnya dingin namun terasa panas, malam yang seharusnya sunyi namun terasa bergemuruh dalam hati. Angan-angan yang meluap karena amarah yang terpendam di dalam lubuk hati yang paling dalam.
Seorang gadis remaja tengah duduk terkaku di depan jendela kamarnya, matanya begitu tajam menatap antusias lampu-lampu yang bergemelapan di jalan raya. Nampak tanganya tengah mengepal sebuah pensil dengan kuat, semakin kuat kepalan gadis itu akhirnya pensil itu pun patah dan terpotong menjadi dua, lalu kemudian terhempas ke lantai.
Seorang kakak yang tinggi semampai dan rambut sebahu itu pun memandang Adiknya di balik pintu dengan penuh perasaan, Sang kakak pun tau apa yang dirasakan oleh Adiknya, namun Sang kakak tidak mampu untuk mendatangi Adiknya itu. Sang Kakak pun akhirnya berlalu dan meninggalkan Adiknya seoarang diri yang tengah termenung.
Ingatannya selalu mengarah pada hari dimana aksi demo mahasiswa akan di gerakkan dan diselenggarakan besok, oleh pergerakan mahasiswa Islam Indonesia. Batinnya susah sekali untuk tertidur, dan matanya pun sulit sekali terpejam di kala malam itu. Bisikan-bisikan pergerakan selalu menghantuinya di setiap pejaman matanya.
Ketika dirinya memejamkan matanya, dia merasakan kegelapan seolah-olah bumi NKRI akan di telan oleh penjajah-penjajah dalam negeri. Dia seolah-olah melihat tubuhnya terhempas ke dalam jurang yang amat dalam dan disaksikan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Di dalam pejaman matanya dia melihat oknum-oknum itu tersenyum dan tertawa bahagia ketika melihat dirinya terhempas dan rakyat yang ada di sampingnya.
Gadis itu pun seolah-olah mendengar teriakan para rakyat yang meminta akan keadilan dan berharap agar negeri ini jangan digadaikan hanya untuk kepentingan perut-perut yang lapar akan kekuasaan dan jabatan.
"Jangan gadaikan negeri ini ... kami mohon jangan!"
Mendengar bisikan-bisikan yang tidak pernah berhenti dari telinganya, gadis itu pun langsung terbangun terpingkal-pingkal. Dirinya tak mampu memejamkan matanya dengan nyenyak sementara pikirannya selalu terarah pada penderitaan rakyat yang merajalela. Gadis itu pun kembali memandang bulan dari jendela kamarnya dan mengungkapkan isi hatinya kepada Sang maha pemilik malam.
"Sudah cukup virus corona yang merebak di negeri ini tuhan ... tolong jangan sampai penderitaan masyarakat juga harus ikut merebak karena virus ketidakadilan," ucapnya dengan nada yang pelan.
Akhirnya sejuknya malam dan indahnya bulan pun telah usai, dan sudah waktunya kilauan dari sang mentari yang panas harus menampakkan dirinya diantara hamparan langit yang membiru. Terik panas matahari pun sudah mulai memuncak namun tidak pernah menyurutkan semangat para mahasiswa pergerakan dari biru kuning untuk menyuarakan aspirasi masyarakat. Suara yang lantang bagaikan dentuman suara ombak ganas yang menabrak bebatuan.
Para Arjuna dan Srikandi pergerakan telah memenuhi persimpangan jalan untuk melaksanakan aksi demo untuk menolak dana PEN agar tidak dicairkan. Diantara gemuruhnya suara revolusi pergerakan, disana ada Nia selaku gadis remaja yang haus akan keadilan, almamater biru dan jilbab kuning yang ia gunakan melambangkan bahwa dirinya adalah warga pergerakan. Nampak kelopak matanya menghitam karena semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak, sehingga salah satu temannya menanyainya.
"Nia, ko kelopak mata kamu menghitam?"
"Aku nggak bisa tidur semalaman."
"Loh, kenapa bisa?"
"Aku selalu kepikiran dengan nasib masyarakat apabila dana PEN ini dicairkan," ucapnya dengan wajah yang merangut.
"Udah santai aja kali," ucapnya dengan cuek.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, Nia langsung merasa emosi dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang tajam. Namun demi menghindari pertikaian sesama pergerakan Nia pun akhirnya pergi meninggalkan sahabatnya itu. "Kelopak mataku boleh menghitam, asalkan bukan mata mereka yang menghitam karena kesengsaraan rakyat," ucap dalam hatinya dengan luapan emosi.
Akhirnya para pejuang revolusi bergerak menuju kantor DPR dan akan menyampaikan aspirasi masyarakat di depan para aparat kepolisian dan para pegawai DPR disana.
Para Arjuna dan Srikandi biru kuning akhirnya sampai di gedung DPR dengan beratribut lengkap. Mereka pun akhirnya masuk dalam pekarangan kantor DPR yang telah dipagari oleh para aparat kepolisian. Nia yang geram akan ketidakadilan itu pun akhirnya memaksakan masuk dan menantang salah satu polwan disana yang dimana polwan itu adalah kakaknya sendiri.
Kakanya pun mencoba menghalangi Nia untuk masuk, namun Nia tetap memaksa dan mendorong Kakanya, dengan perasaan emosi Kakanya pun menegur Nia dengan suara yang sangat keras.
"Diam kamu, Nia!"
Mendengar teriakan dari Kakanya Nia, sekejap gemuruh langsung berubah menjadi hening secara seketika. Mata Sang polwan itu pun memerah setelah membentak Adiknya, perasaan tak tega lalu keluar dari hatinya ketika melihat Nia menangis.
"Kakak sudah membentak ku ... itu tandanya, secara sadar. Kakak telah menginjak-injak rakyat."
Setelah menyaksikan hal itu teman-teman sejawat dari Nia yang merupakan sahabat sepergerakan merasa tidak tega dengan perlakuan Kakanya itu, Muhammad Nirwan yang selaku narator pun akhirnya menyuarakan suara dengan lantang untuk memaksa masuk ke dalam gedung DPR dengan secara paksa.
"Sebuah lidah kasar telah membentak sahabat kita ... Inilah saatnya pergerakan dimulai!"
Saling dorong mendorong pun akhirnya terjadi diantara kubu kepolisian dan mahasiswa. Mahasiswa sangat antusias sekali untuk berambisi membatalkan dana PEN itu. Dari kubu mahasiswa pun banyak yang terluka akibat pukulan dan tendangan dari pihak kepolisian.
Nia yang melihat Kakanya tengah berusaha menghalangi teman-temannya masuk, akhirnya Nia pun mendatangi Kakanya dengan luapan amarah. Tanpa Kakaknya sadari tiba-tiba Nia datang dan mendorong polwan itu.
"Maksud kam-," ucapannya dipotong oleh Nia yang sudah sangat geram.
"Tolong beri kami jalan untuk masuk, Kak," ucapnya dengan nada yang tegas namun pelan.
Sang Kakak pun secara langsung terdiam ketika melihat mata Adiknya yang berkaca-kaca, ia sangat menyayangi Nia, ingin sekali rasanya dia memeluk Nia, namun situasi memaksakan dirinya harus terus-menerus bersandiwara.
Kericuhan pun tidak berjalan lama setelah Pak Sekwan keluar yang di dampingi oleh para pegawai yang lainya dan memberhentikan kericuhan tersebut.
"Stop ... cukup atas kericuhan ini!"
Setelah mendengar teguran dari Pak Sekwan, akhirnya kericuhan pun meredam. Para mahasiswa pun akhirnya dipersilahkan duduk melantai bersama para aparat yang hadir. Nia yang merasa dahaganya belum terpenuhi akhirnya mengambil toa dari pimpinan pergerakan. Nia pun dengan lembut menyuarakan aspirasi masyarakat didepan Pak Sekwan.
"Maaf atas kelancangan kami masuk ke gedung ini ... niat kedatangan kami disini adalah niat baik, namun malah disambut dengan kericuhan ... maksud dan kedatangan kami ingin menolak adanya dana PEN ... yang dimana katanya akan mensejahterakan rakyat ... tapi nyatanya hanya mensejahterakan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab," ucapnya dengan santai namun mengena.
Mendengarkan ucapan Nia Sang Kakak hanya bisa terdiam dan tertunduk, namun Pak Sekwan merasa dirinya tidak dihargai dan menantang para mahasiswa dengan ucapan janji antara jabatan dan cairnya dana PEN ini.
"Saya berjanji akan mewadahi pelaksanaan RDPU ini ... kalaupun RDPU ini tidak terlaksana sebelum cairnya dana pen ... jabatan saya yang akan menjadi taruhannya," ucapnya dengan nada yang dingin.
Mendengar pernyataan dari Pak Sekwan para mahasiswa pun bertepuk tangan seraya merayakan kemenangan atas apa yang di perjuangkan hari ini, Nia pun merasa sangat bahagia, senyumnya terpancar di antara pasukan biru kuning yang memenuhi pekarangan gedung DPR. "Semoga saja Tuhan memberkati rakyat," ucapnya dalam hati yang penuh rasa haru.
Kini para revolusi pergerakan telah berpulangan dan meninggalkan jejak sebuah perjuangan, mereka datang dengan aksi dan aspirasi, lalu mereka pulang dengan senyum yang berseri. Mereka hanya menunggu keputusan selanjutnya apakah dana PEN ini yang cair atau jabatanlah yang akan mencair.


0 Comments