Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam

           Jam dinding telah menunjukkan pukul 03:05, yang artinya sudah larut malam, dan tak ada suara apapun yang terdengar di sekeliling kamar, semua hening dan sunyi, yang terdengar hanya suara ketukkan jam dinding yang berputar. Suara bisikan tangisan yang mendayu-dayu terdengar di kamar itu.
           Nampak di kegelapan malam, seorang gadis cantik tengah bercermin di dalam kamarnya sambil menguraikan air mata. wajahnya yang bulat, serta rambutnya yang lurus terurai, membuat dirinya cantik dan menawan. Tatapan gadis itu begitu tajam memandang dirinya di depan cermin, kelopak matanya mulai menghitam karena terlalu banyak begadang.
           Pagi pun tiba, suara kokokan ayam jantan pun terdengar dimana-mana. Mentari yang naik dari ufuk timur, memancarkan silau cahaya menuju jendela gadis itu, cahayanya yang menyilaukan, menerpa wajahnya yang menawan itu.
           Dari balik kamar terdengar suara panggilan yang mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
           "Neng, Bunga ... ini, Bibi, Neng."
           "Masuk, Bi," ucapnya yang dingin.
           Bi Mirna pun masuk ke dalam kamarnya dengan membawa segelas air putih dan sepiring bakso bakar ke sukaanya, Bi, Mirna pun tersenyum sekaligus bersedih melihat Bunga yang hanya bisa duduk termenung di depan cermin. "Neng, Bunga ... kasihan sekali nasib kamu, Nak ... pasti, semalaman kamu tidak tidur lagi," ucap dalam hatinya.
           Bi Mirna pun menaruh makanan itu di meja, dan memegang pundak Bunga dan menyuruhnya untuk sarapan.
           "Neng, Bunga ... kamu makan dulu ya, Nak," ucapnya dengan nada pelan namun bersemangat.
           "Aku nggak mau makan, Bi," ucapnya dengan tatapan dingin menatap di cermin.
           "Hmm ... Neng, Bunga nggak boleh begitu ... Neng, Bunga harus tetap makan. Supaya Neng, Bunga nggak sakit," perhatian selalu diberikan oleh bibinya.
           "Bi ... aku ini burung atau tumbuhan?" 
           Mendengar pertanyaan itu, Bi Mirna pun sedikit terkejut dan heran dengan pertanyaan Bunga yang menatapnya dengan tatapan yang dingin.
           "Ko. Neng, Bunga bertanya seperti itu?"
           "Buat apa aku jadi manusia, Bi ... kalau hidup aku seperti ini."
           Bi Mirna pun hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpa Bunga, perasaan Bi Mirna sangat terpukul ketika dirinya mengingat kembali ketika Ayahnya yang memarahi dan menyakiti Bunga serta memperlakukan Bunga bukan layaknya seperti anaknya sendiri.
           "Ampun, Pah, ampun!"
           "Kamu jangan pernah sekali-kali melawan, Papah!"
           Bunga hanya bisa menangis menjadi-jadi ketika dirinya di pukul oleh Ayahnya. Bi Mirna tak bisa melakukan apa-apa selain hanya menangis melihat keadaan Bunga.
           Bi Mirna terkadang merasa simpati dan bahkan sampai menangis ketika melihat Bunga yang murung di kamarnya sendirian, gadis seumuran Bunga sudah sepantasnya dia keluar dan bertemu dengan teman-teman yang seumuran dengannya. Bermain, berbagi cerita, dan menempuh hari-hari yang bahagia.
           Tidak lama kemudian Bi Mirna mengajak Bunga untuk berjalan-jalan menghirup udara segar di pinggiran rumah. Bunga pun berjalan perlahan dengan Bi Mirna mengelilingi taman pekarangan rumah, namun Bunga tetap dengan tatapan kosongnya yang tak menoleh kesamping maupun ke kiri. Tatapannya hanya kosong dan mengarah ke depan.
           "Neng ... coba lihat rumah, Neng yang megah ini ... bagi Bibi, memilki rumah semegah ini sudah membuat, Bibi sangat bahagia sekali."
           "Bahagia kata, Bibi ...? rumah megah ini melainkan kurungan bagi ku," ucapnya dingin.
           "Hmm ... Neng nggak boleh begitu, Neng harus bersyukur ... coba Enneng lihat di luaran sana, banyak orang yang ingin bertempat tinggal, namun tak mampu untuk memilikinya."
           Mendengar nasihat dari Bi Mirna, Bunga pun lalu menatapnya dan kembali meneteskan air mata.
           "Bi ... seandainya, Ibu masih hidup ... mungkin, Bunga nggak seperti ini, Bi ... Bunga capek, Bi ... Bunga capek!"
           Bunga pun kembali menangis menjadi-jadi di taman rumahnya, Bi Mirna pun lalu memeluknya, dan membuat Bi Mirna juga tak sanggup membendung air matanya, Bu Mirna memeluk dan mencium kepala Bunga, Bi Mirna sudah menganggap Bunga layaknya seperti anaknya sendiri.
           "Kamu yang sabar ya, Neng."
           "M-makasih ya, Bi ... B-Bibi selalu ada u-untuk menemani, Bunga," ucapnya di pelukan Bi Mirna diantara isakan tangisnya.
           "Bibi akan selalu ada buat kamu, Neng ... Bibi sudah menganggap kamu seperti anak, Bibi sendiri."
           Bunga pun merasakan ketenangan dan kehangatan ketika berada pada pelukan dan dekapan Bi Mirna. Cinta dan kasih sayang Bi Mirna telah membuat hidup Bunga tumbuh kembali.
           "Oh iya, Neng ... Bibi, masuk dulu ya, Neng ... Neng Bunga main-main aja dulu di taman ini ... hibur diri Enneng sendiri dengan makhluk hidup yang ada di sekeliling Enneng ... Neng Bunga, pasti bisa."
           Bunga pun hanya membalas Bi Mirna dengan anggukan.
           Tinggallah Bunga seorang diri di taman, dia pun memejamkan mata dan menghirup udara segar yang nikmat. Bunga pun lalu membuka matanya kembali dan memandang segala apapun yang ada di sekelilingnya. Bunga pun lalu memandang langit dengan burung-burungnya yang terbang beriringan, lalu Bunga menoleh ke sawah yang kering di samping pagar rumahnya, dia pun kemudian tersenyum memandang anak sapi yang bermain dengan induknya. 
           Kemudian Bunga terduduk di taman itu dengan raut wajah yang sedih. "Burung saja dapat bermain beriringan, sapi saja dapat bermain dengan induknya ... sementara aku." ucap dalam hatinya.
           Bunga pun kembali menangis meratapi kehidupan yang menimpanya, di sela-sela tangisan Bunga, tiba-tiba seekor kupu-kupu hinggap di lututnya. Bunga yang menyadarinya lalu memandang kupu-kupu itu dengan tersenyum, kupu-kupu itu menari dengan sayapnya yang indah, seraya mengajak Bunga untuk bermain.
           Kupu-kupu itu pun kembali terbang dan menjauh dari Bunga, menjauh dan semakin menjauh. Bunga yang merasa terpanggil akhirnya mengejar kupu-kupu itu dengan tersenyum lebar, kini senyuman indah dan manis itu telah kembali dari wajah Bunga yang bulat itu. 
           Bunga pun mengejar kupu-kupu itu dengan perasaan bahagia, lalu kupu-kupu itu hinggap di sebuah Bunga untuk mengisap sarinya. Bunga pun memandang kupu-kupu itu dengan tersenyum. "Kupu-kupu itu juga sendiri, namun dia mampu menghibur dirinya," ucap dalam hatinya.
           Bunga pun mendekati kupu-kupu itu dengan perlahan dan ingin menangkapnya. Namun kupu-kupu itu pun terbang dengan tinggi dan semakin tinggi, Bunga pun tak mampu untuk meraihnya, akhirnya kupu-kupu itu pun pergi meninggalkan Bunga. Bunga pun kembali bersedih. Namun di kala kesedihannya, dia pun memandang Sebuah Bunga yang ada di sampingnya, Bunga itu sangat indah dan menarik perhatiannya, Bunga pun mencium Bunga itu dengan bahagia, Bunga pun lalu memetiknya dan membawanya ke pinggir pagar, Bunga pun asik mencium Bunga itu sambil memandang hamparan sawah di balik pagar itu. Kini, bahagia gadis itu telah tumbuh. "Aku, Bunga ... dan kamu juga, Bunga ... kita sama-sama ditakdirkan hidup di balik pagar ini ... Bunga yang terpagar," ucap dalam hatinya yang kini telah menemukan kebahagiaan.