Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam
Mentari telah naik ke langit dengan memancarkan cahaya keberkahan, rumput yang basah karena embun akhirnya kering karena paparan sinar mentari yang memancar dari ufuk timur. Angin yang menghembus di pagi hari menembus kulit seorang pengembala yang memegang setangkai kayu, dengan mengenakan pakaian yang lusuh dan sedikit sobekan di lengan kanannya dan celana panjang cakar yang penuh dengan lumpur, serta topi kerucut yang melekat di kepalanya.
Sang pengembala pun menggiring sapi-sapinya dengan hati-hati. Langkah demi langkah Sang pengembala berjalan menjaga sapi-sapinya agar tak memakan tanaman orang.
Sang pengembala menggiring sapi-sapinya ke sebuah hamparan tanah kering di balik bukit. Tanjakan dan turunan ia lewati bersama hewan ternaknya, sesampainya Sang pengembala di hamparan itu, ia akhirnya membiarkan sapi-sapinya makan dengan sepuasnya. Sang pengembala pun lalu pergi di bawah pohon kelapa untuk mengistirahatkan tubuhnya, dia pun menaruh setangkai kayunya di sampingnya. Ia pun sangat antusias memandang sapi-sapinya makan dengan lahap. Sang pengembala pun tersenyum memandang sumber pencahariannya yang akhirnya telah tumbuh dengan gemuk.
Asik memandang sapi-sapinya menyantap rumput-rumput yang segar, akhirnya sang pengembala pun memejamkan matanya dengan perlahan dan akhirnya tertidur dengan pulas. Suara desisan pun terdengar dari semak belukar. Terik panas matahari akhirnya memancar dengan sedikit aura panas, dan membuat si pengembala akhirnya terbangun dari tidur pulasnya. Ia lalu mengucek matanya dan memandang sapi-sapinya dengan tersenyum. Setelah ia melihat dengan jelas, senyumanya tiba-tiba berubah menjadi rasa panik, dirinya menemui sapinya berkurang satu ekor.
Sang pengembala pun akhirnya dengan sigap langsung mencari satu ekor sapinya yang hilang itu, dirinya sangat panik dan keringat mulai bercucuran dari raut wajahnya yang berputar-putar untuk mencari sapinya dari berbagai arah.
"Ya, Tuhan. Sapi ku mana ya," ucapnya dengan nada yang cemas.
Sang pengembala akhirnya hanya bisa duduk termenung dan memandang luasnya hamparan tanah itu sambil mengusap keringat di wajahnya. Lalu sang pengembala pun menatap langit yang biru tanpa awan dengan tatapan mata yang agak tertutup karena pancaran yang menyilaukan. Kini matahari sudah tidak memberikan kesejukan lagi, namun memberikan panas terik yang dapat membakar kulit. Sang pengembala pun kemudian memandang sapi-sapinya kembali. Lalu pada akhirnya Sang pengembala pun berjalan menuju salah satu sapinya yang paling besar dan mengelus-elus pundaknya sambil tersenyum.
Sang pengembala pun lalu menghela nafasnya, dan memandang sekali lagi hamparan tanah yang luas itu dengan rumputnya yang menghijau. Dengan berat hati dia pun akhirnya berusaha untuk mengikhlaskan satu ekor sapinya itu. Menangis meratapi masalah yang hadir silih berganti, tidak akan pernah membuat dirinya bahagia, karena pada hakikatnya masalah itu akan selalu hadir selagi dunia ini masih bergulir.
"Aku akui ... aku memang salah telah lalai dalam menjaga sapi-sapi ku ... namun sudahlah ... rejeki dari setiap makhluk itu semuanya telah ditetapkan oleh tuhan ... Manusia berdoa, hewan pun mampu untuk berdoa."


0 Comments