Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam

           Di pagi yang cerah nampak seorang wanita paruh baya yang berpakaian rapi dan secangkir teh panas di sampingnya, jari-jemarinya begitu antusias sekali dalam mengetik sebuah dokumen berkas, terkadang wanita ini terdiam sejenak memandang monitor leptopnya dan mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk tangan seolah sedang berfikir. 
           Karena merasa pusing dengan berkas yang dia kerjakan, wanita itu pun lalu menghirup teh panasnya. Disela hirupan teh yang dinikmatinya, tiba-tiba keluar seorang remaja yang polos berkacamata bulat dari balik kamar dan menghampirinya dengan tatapan yang emosi dan tergesa-gesa.
           "Mah ....!"
           Cangkir masih berada pada mulut wanita itu, lalu dia pun terkejut dengan teriakan Akbar, lalu wanita itu memandang Akbar dengan tatapan yang berperasaan iba. Wanita itu pun lalu meletakkan cangkirnya dengan perlahan.
           "Iyah, ada apa, Akbar?"
           "Mana janji mamah, katanya mau beliin aku motor!"
           "Iyah ... Mamah, pasti akan belikan kamu ko, kamu sabar dulu ya, Akbar," ucapnya pelan.
           "Mamah, selalunya begitu ... Mamah itu pembohong!"
           Akbar pun langsung keluar dari rumah dengan membawa jaket kuning yang selalu ia bawa kemana-mana, Akbar merasakan emosi yang tak tertahankan pada dirinya, sehingga dirinya pergi tak mengucapkan sepatah kata apapun dari Ibunya.
           "Akbar, Akbar, kamu mau kemana ... Akbar, Akbar ....!"
           Teriakan dari Ibunya tidak dihiraukan oleh Akbar, Akbar pun terus berjalan dengan cepat dan semakin cepat, lalu berlalu dengan jauh dan semakin jauh. "Maafkan. Ibu, Nak ... seandainya keadaanmu tak seperti itu ... pasti, Mamah akan belikan kamu motor ... tapi, Mamah takut. Kamu malah kenapa-kenapa nantinya," ucap dalam hatinya dengan tetesan air mata yang menggores pipinya.
           Dengan luapan emosinya, di jalan Akbar tidak sengaja menemui wanita yang berparas cantik yang telah ia incar selama ini, dan kebetulan wanita itu merupakan satu kelas Akbar di SMA. Akbar pun kembali merasakan kebahagian yang terlihat dari raut senyumnya ketika memandang wanita itu. Akbar pun mencoba mendekati wanita itu, namun betapa terkejutnya dia. Ketika melihat ada seorang laki-laki yang menghampirinya dan memberikannya sebuah es coklat. 
           Akbar menyaksikan dengan kedua belah matanya, terlihat wanita itu sangat senang ketika diberikan coklat oleh laki-laki itu, seketika perasaan Akbar hancur. Dirinya tak menyangka ternyata wanita yang ia sukai adalah milik orang lain.              "Ternyata ... kamu juga pembohong," ucap dalam hatinya dengan perih.
           Akbar pun akhirnya kembali berlalu dan berjalan meninggalkan wanita dan laki-laki itu dengan perasaan yang terpukul sekaligus mata yang berkaca-kaca dibalik kacamata yang bulat itu.
           "Tuh aku udah beliin kamu es coklat ... ayo cepat, Mamah nungguin kita tuh di mobil, dasar anak lelet," ucapnya dengan sedikit bercanda.
           "Iyah-iyah, Kakak bawel ... aku cepet nih."
           Kedua bersaudara itu pun akhirnya beranjak pergi tanpa mengetahui ada hati yang sedang terpukul dan tersakiti.
           Disela rasa sakit yang Akbar rasakan, dia pun tengah terduduk lesu dan tertunduk di sebuh kursi panjang berwarna putih. Perasaan emosi dan sakit, kini bercampur aduk menjadi satu dan membuat Akbar tak tahu harus berbuat apa lagi. Namun tidak lama kemudian Akbar pun dikagetkan oleh sahabatnya, seorang wanita yang memang selalu menjadi teman akrab Akbar di kelas. Namun dengan kedatangannya Akbar bukannya merasa senang namun sebaliknya, Akbar malah menganggap sahabatnya itu juga pembohong, sama seperti Ibunya dan wanita yang ia sukai.
           "Kamu jangan dekat-dekat aku lagi ... kamu bukan sahabatku lagi ... kamu itu pembohong," ucapnya lirih dengan nada suara yang dingin.
           Sahabatnya itu pun bingung dengan Akbar, yang langsung juga mengatakan dirinya pembohong.
           "Maksud kamu apa?"
           "Udah, jangan berlaga bego kamu!"
           "Apa sih maksud kamu, aku nggak ngerti?" 
           Akbar pun lalu berbalik badan dan menaruh kedua tanganya di saku celananya yang agak kebesaran itu.
           "Kamu bilang ... karin nggak punya pacar, namun nyatanya ... aku liat dengan mata kepala ku sendiri, dia bahagia banget ketika mendapatkan sebuah es coklat dari seorang laki-laki ... pasti, laki-laki itu pacarnya, kan?"
           "Kamu jangan salah paham dulu, bisa aja laki-laki itu kakanya ... soalnya setahu aku, karin nggak punya pacar, dan memang ketika dia mau keluar dia selalu di antar sama Kakanya ... jangan pernah percaya dengan apa yang mata lihat, namun perlu ada kejelasan agar kamu nggak salah paham, Akbar," penjelasannya kepada Akbar yang telah terlanjur emosi.
           "Udahlah ... nggak ada yang bisa aku percaya sekarang ... semuanya pembohong!"
           Akbar pun akhirnya kembali berlari dan meninggalkan sahabatnya itu disana.      Kini bukan hanya rasa emosi dan pedih yang dirasakan oleh Akbar, namun sekarang perasaanya telah hancur karena dirinya merasa telah di dustai oleh orang-orang yang dia sayangi. 
           Akbar pun akhirnya singgah dan berdiri di sebuah pinggiran sungai yang luas, dan berteriak dengan sepuasnya di hadapan sungai itu untuk meluapkan rasa sakitnya.
          "Aaaaaaagh ....!"
          Tak ada yang mendengarkan suara teriakan Akbar melainkan sang ilahi, air sungai bergelombang karena dorongan angin yang kencang, serta pohon-pohon yang rindang ikut menari dengan terpaan angin yang kencang pula. Akbar pun menangis diantara hamparan sungai yang luas dan hembusan angin yang menerpa wajahnya, sembari berkata dalam hatinya dengan ungkapan yang ia alami sekarang.
           "Ibu, juga membohongiku."
           "Wanita yang aku sukai, juga membohongiku."
           "Dan sahabatku juga membohongiku,"
           "Ternyata wanita itu pembohong,"
           "Apakah kau juga akan membohongiku Tuhan?" ucapnya dengan mengangkat wajah dan menatap langit yang biru.