Dan si nenek pun banyak menghabiskan waktunya dengan berjualan di pasar namun kadang juga berkeliling, jualan Mak Ijah biasanya adalah sayur-sayuran, dan lebih baiknya lagi Mak Ijah tidak pernah mematokkan harga kepada pembeli, di keadaan Mak Ijah yang miskin dia paling senang yang namanya bersedekah.
Di kala panas matahari yang menyengat, teriknya yang begitu menyilaukan, tetesan demi tetesan keringat berjatuhan dari wajah yang mengkerut itu, dari kejauhan nampak Mak Ijah tengah berjualan menyusuri jalan tol, dan kelihatan Mak Ijah selalu menghampiri mobil-mobil di sana untuk menawarkan jualannya, peluh keringat yang keluar membasahi wajah Mak Ijah tidak pernah menyurutkan senyumannya kepada setiap orang, senyumannya yang tulus dan ketawanya yang begitu ceria.
Sore pun tiba sementara Mak Ijah telah menyusuri jalan yang sangat panjang dan ketika ingin pulang Mak Ijah bingung. "Bagaimana ya aku bisa pulang aku sudah tidak kuat jalan dan aku juga tidak punya uang untuk bayar sewa angkot," ucap dalam hatinya sambil mengusap keringatnya di dahi.
Mak Ijah pun tetap berjalan pulang karena hanya dengan cara ini Mak Ijah bisa sampai ke rumah walaupun capeknya bukan main tapi Mak Ijah tetap bersemangat.
Hari pun mulai gelap, mentari perlahan melenyapkan dirinya, sementara perjalanan Mak Ijah masih belum pertengahan jalan, dan akhirnya hujan pun turun sehingga membuat Mak Ijah basah kuyup dan kedinginan, Mak Ijah lalu pergi berteduh di warteg sambil mengelus-elus tubuhnya sembari berusaha untuk menghangatkan, ditambah lagi hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat Mak Ijah semakin kedinginan, ketika Mak Ijah menoleh ke belakang Mak Ijah melihat ayam geprek yang baru dibakar yang kelihatannya sangat enak, Mak Ijah hanya memperhatikannya namun apalah daya dia tak mampu untuk membelinya.
Namun tidak lama kemudian ada sekeluarga yang singgah untuk makan di warteg tersebut, mobilnya sangat mewah, dan akhirnya pun mereka masuk dan memesan makanan, Mak Ijah yang memperhatikan mereka akhirnya tersenyum dan terharu melihat kebersamaan itu, Mak Ijah berfikir seandainya anak Mak Ijah masih ada mungkin dia sudah berkeluarga seperti mereka, namun tanpa disengaja laki-laki pemilik mobil itu lalu melihat Mak Ijah, dia pun merasa kasihan dengan Mak Ijah yang basah kuyup sambil merangkul barang dagangannya.
Tidak lama kemudian akhirnya Mak Ijah dipanggil masuk oleh laki-laki itu.
"Bu, mari masuk Bu di luar dingin," ucapnya dengan sopan sambil merangkul Mak Ijah masuk.
langsung saja Sang istri menyapa Mak Ijah, "Mari masuk, Bu," ucapnya dengan senyuman.
Mak Ijah selalu memperhatikan mereka dengan senyuman, dan akhirnya Mak Ijah pun meneteskan air mata, lalu tanpa disengaja Sang istri melihat Mak Ijah yang menangis.
"Loh, kenapa menangis Bu? apakah makanannya tidak enak ya? tanyanya kepada Mak Ijah dengan wajah yang heran.
"Tidak Nak, Ibu cuman merasa terharu melihat kebersamaan kalian yang kelihatannya sangat akur sekali," jawab Mak Ijah sambil menangis.
"Alhamdulillah Bu, kalau pandangan Ibu seperti itu," ucapnya dengan tersenyum, Sang anak pun memperhatikan dialog antara mereka.
"Sudah ayo dimakan makanannya Nek nanti keburu dingin loh," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya Nak, Nenek makan ini," ucapnya dengan senyuman lebar serta mengusap kepala anak itu.
Ketika mereka telah selesai makan Sang istri menanyai Mak Ijah.
"Ibu mau kemana? tanyanya kepada Mak Ijah.
"Ibu mau pulang dulu nak," jawab Mak Ijah dengan tersenyum.
"Ibu pulang sendiri dan suaminya mana tidak datang menjemput? tanyanya kepada Mak Ijah dengan wajah khawatir.
"Suami sudah meninggal," jawabnya tersenyum dengan raut wajah yang sedih.
"Anak Ibu memangnya tidak ada? tanya Tina dengan wajah khawatir.
Mak Ijah yang tadinya tersenyum kembali bersedih karena teringat kembali dengan anaknya yang meninggal terbawa arus, "Anak Ibu juga sudah meninggal nak terbawa arus pas banjir dulu," ucapnya pelan.
Wanita itu pun seketika kaget dan teringat apa yang menimpanya tiga puluh tahun yang lalu.
"Kok sama ya nasib anak Ibu ini dengan nasibku dulu yang hanyut terbawa arus," ucapnya dalam hatinya dengan memandang Mak Ijah.
Termenung mendengarkan ucapan Mak Ijah yang penuh dengan derita, akhirnya pun Laki-laki itu pun langsung memegang tangan Mak Ijah untuk diantar pulang.
"Mari Bu lebih baik saya antar, kami tidak tega melihat Ibu harus jalan kaki sendirian di malam yang dingin seperti ini," ucapnya sambil merangkul Mak Ijah masuk ke mobil.
"Emangnya rumah Nenek dimana?" tanya Sang anak kepada Mak Ijah dengan sikap yang manja.
"Rumah Nenek ada di Desa Harapan," jawab Mak Ijah sambil merangkulnya.
Kelihatannya anak itu merasa nyaman di dekat Mak Ijah sampai tertidur di pangkuannya. Ibunya yang melihat itu langsung tersenyum bahagia karena melihat Mak Ijah dan anaknya bisa se akrab itu.
Akhirnya mereka sampai ke rumah Mak Ijah, mereka kaget sekaligus sedih melihat keadaan rumah Mak Ijah yang reot itu dan semua atap-atapnya sudah mulai bocor, hari pun sudah mulai larut malam jadi mereka pun berpamitan pulang kepada Mak Ijah.
"Bu, kalau begitu kami pulang dulu ya," ucapnya sambil bersalaman dengan Mak Ijah.
"Pulang dulu yah, Nek," ucapnya sambil bersalaman.
"Iyah kalian hati-hati di jalan ya," ucap Mak Ijah sambil melambai tangan kepada mereka.
Keesokan harinya, di siang hari dengan pancaran matahari yang terik, Mak Ijah pun kembali berjualan keliling sambil menggendong sayur-sayurannya, senyuman nenek tua itu selalu terpancar di semua orang yang ada di sekelilingnya, tanpa disengaja Mak Ijah singgah untuk istirahat di sebuah komplek sambil mengipas wajahnya, dan ternyata komplek itu milik keluarga yang membantunya kemarin.
Tidak lama kemudian Wanita yang kemarin membantunya pun keluar untuk menyapu, dirinya pun sedikit kaget ketika melihat seorang nenek tua yang singgah di teras rumahnya.
"Permisi, Bu."
Langsung saja Mak Ijah menoleh kebelakang dan Wanita itu pun kaget ternyata itu adalah nenek yang kemarin.
"Ibu," ucapnya dengan perasaan kaget bercampur senang.
"Eh, kamu, Nak ... kamu tinggal disini ya?" tanya Mak Ijah sambil tersenyum.
"Ibu dari mana aja sampai kecapean begitu?" tanyanya dengan perasaan kasihan,
"Ibu tadi keliling buat jualan ... tapi Ibu istirahat dulu disini, eh tau-taunya ini rumah kamu, Nak," ucap Mak Ijah sambil tertawa.
Wanita itu pun merasa kasihan melihat Mak Ijah, tanpa berlama-lama dia pun langsung masuk kedalam untuk mengambilkan Mak Ijah air minum.
"Ini Bu, diminum dulu airnya."
"Iyah, makasih ya, Nak."
"Sama-sama, Bu," ucapnya dengan tersenyum bahagia.
Mak Ijah meminum air itu dengan lahapnya sangking kehausan, Wanita itu pun memperhatikan Mak Ijah sembari tersenyum, setelah selesai minum, Mak Ijah pun menanyakan siapa nama mereka satu persatu, dan keberadaan anaknya yang lucu itu dengan suaminya.
"Oh iya ... Nenek kemarin lupa bertanya ... nama suaminya, dan anaknya siapa, Nak?"
"Oh ... kalau suami, namanya anton ... dan anak saya namanya, rara, Nek," ucapnya tersenyum sipu.
Mereka berdua pun larut dalam canda tawa dan kebersamaan, Wanita itu pun merasa ada kebahagiaan ketika bersama dengan Mak Ijah, dan begitu pula kepada Mak Ijah, dirinya pun merasa bahagia.
"Oh ya, si kecil dan suami kamu ... kemana?"
"Oh, kalau rara belum pulang sekolah Bu, palingan pulang sebelum duhur dan bapaknya palingan pulangnya sore, Bu ... banyak kerjaan di kantornya.
Tiba-tiba dia teringat dengan ucapan Mak Ijah kemarin malam tentang anaknya.
"Oh ya, kalau boleh tau nama Ibu siapa?" tanya Tina untuk memastikan semuanya.
"Nama Ibu Ijah nak."
Wanita itu pun langsung kaget, tanpa terasa sapu yang dipegangnya pun terlepas, dirinya pun seolah olah bagaikan tersambar petir seketika, bahwa Ibunya pun bernama Ijah
Sambil berdebar-debar dia pun dengan perlahan-lahan kembali bertanya.
"Oh ya, Bu ... anak Ibu yang hanyut di sungai namanya siapa ya?" tanyanya dengan raut wajah yang sangat penasaran.
Mak Ijah langsung menoleh ke atas melihat mentari yang bersembunyi di balik awan. Lalu Mak Ijah pun menjawab.
"Anak Ibu bernama Tin-."
Mak Ijah tidak tahan membendung air matanya, lalu Mak Ijah pun menangis.
"Ibu jangan menangis," ucapnya sambil merangkul Mak Ijah.
Diantara isakan tangisnya, Mak Ijah dengan perlahan membuka mulutnya dan menjawab pertanyaan dari Wanita itu, dengan dada yang sesak, Mak Ijah berusaha untuk mengucapkannya.
"A-anak Ibu b-bernama T-tina, Nak!"
Mendengar ucapan itu Tina begitu kaget, perlahan air matanya pun ikut menetes, ternyata selama ini Nenek tua yang dia bantu ternyata Ibunya sendiri yang telah lama tidak bertemu selama tiga puluh tahun yang lalu, Tina pun langsung memeluk Mak Ijah sembari berkata. "Aku Tina Bu ... anak Ibu!"
Mak Ijah pun langsung kaget dan merasa syok, tak tanggung-tanggung, Mak Ijah pun langsung memeluk erat anaknya, "Tina ...! ternyata kamu masih hidup, Nak ... Ibu senang melihat kamu yang sekarang, Ibu rindu sekali sama kamu, Nak," ucapnya sambil mengusap air mata, Tina.
"Iyah Bu ... ini Tina anak Ibu, aku juga rindu sama Ibu ...."
Matahari, burung-burung yang berterbangan, serta angin yang menghembus, menjadi saksi bahwa Akhirnya mereka bertemu telah sekian lama dipisahkan antara jarak dan waktu, lalu kemudian Tina mengajak ibunya tinggal bersamanya untuk bisa menemani Rara, dan ini menjadi satu kebahagiaan bagi Tina dan Mak Ijah sendiri, karena Tuhan telah mempertemukan mereka berdua, dan pada akhirnya mereka pun hidup bahagia.


0 Comments