Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam
Seorang remaja terbangun di sepertiga malam. Bersujud menghadap sang pemilik malam. Pada sujud terakhir dia pun pejamkan mata sambil tersenyum memohon sebuah keajaiban. Hatinya tergelitik dan tak kuasa menahan kerinduan yang terpendam. "Apakah aku bisa bertemu dengan dia ya Allah ...?"
Di pagi yang cerah, Aldo menatap dirinya di depan cermin, dengan berpakaian kemeja putih kebiruan, yang membuatnya tampan menakjubkan.
Dan seketika handphonenya berbunyi. Aldo pun langsung mengangkat handphonenya, sambil mengenakan peci.
"Assalamualaikum. Aldo."
"Waalaikumusalam. Ustadz."
"Antum ada di mana sekarang?"
"Masih di rumah ustadz."
"Oh iya. Ane tunggu ya?"
"Siap Ustadz," ucapnya sambil menaikkan jempol.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumusalam. Ustadz."
Setelah handphone tertutup, Aldo pun tersenyum di depan cermin sambil memperbaiki kerah bajunya, setelah selesai, Aldo pun berlalu melangkahkan kakinya menuju surau, dengan berjalan kaki. Dia menikmati indahnya alam sekitar sambil menghirup udara pagi yang masih belum tercemar. Sesampainya di depan pintu gerbang. Aldo menghirup nafas dalam-dalam untuk merilekskan diri. "Huuh ...."
Sebelum masuk ke dalam masjid, Aldo menyempatkan sejenak untuk mengambil air wudhu. Namun tanpa di sengaja Aldo menemui sebuah buku diary kecil berwarna pink yang terletak di tangga. Aldo pun langsung mengambil diary itu dan membukanya. Dia kelihatanya senang membaca diary itu sambil tersenyum mengangguk-angguk.
"Permisi, kak. Boleh saya ambil diary saya ...?"
Aldo langsung kaget dengan apa yang dia pandang, seorang wanita yang wajahnya berseri-seri, yang telah tersiram air wudhu, lalu Aldo pelihat air yang menetes dari ujung hidungnya yang mancung itu. Sehingga mampu membuat jantung Aldo langsung berdetak kencang.
"O-h ya. Maaf, saya sudah lancang membaca diary kamu," ucapnya merasa malu.
"Nggak, papa ko. Kak," ucapnya menunduk.
Aldo merasakan perasaan yang beda setelah menatap mata wanita itu, bola matanya yang bulat, dan bulu mata yang melentik. Seolah-olah Aldo merasakan telah terkena sihir yang menghujam jantungnya. Sehingga membuatnya ingin mengetahui lebih dalam lagi siapa wanita itu.
Aldo terus memperhatikan langkah wanita itu menaiki tangga sampai ke atas.
"Astaghfirullah," ucapnya sambil mengucek matanya.
Pada kesempatan kali ini Aldo mendapatkan kesempatan untuk membawakan tausiah di masjid agung Al-Markaz, masjid terbesar yang ada di kab Bone. Sesampainya di dalam, Aldo menemui ustadz Zakir, selaku pengurus masjid di sana.
"Assalamualaikum. Ustadz."
"Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh," Jawabnya dengan riang.
"Masyaallah. Antum keren banget hari ini Aldo. Pasti nanti banyak ukhti-ukhti yang melongo liat antum tampil," ucapnya dengan pujian.
"Ustadz Zakir bisa aja," ucapnya merasa malu.
"Bagaimana persiapannya, bawain tausiah nanti ...? materi yang ane kasih udah dikuasain ya?" tanyanya sambil menepuk pundak Aldo.
"Alhamdulillah. Ustadz," ucapnya sambil menunduk.
"Syukurlah, kalau begitu, Aldo."
Tak terasa perbincangan mereka membawa suasana dan waktu terus berjalan. Dan pada akhirnya tibalah pukul 09:15 lewat. Ustadz Zakir pun menyuruh Aldo untuk segera bersiap-siap.
Akhirnya tibalah waktu yang di tunggu-tunggu. Ustadz kondang dari Bone akan membawakan sebuah tausiah keberkahan. Aldo perlahan-lahan naik ke atas mimbar dengan menebar senyum yang manis ke semua jama'ah. Aldo yang berdiri dengan tegak memakai kemeja putih dengan menggunakan sarung berwarna hitam serta peci berwarna hitam, membuatnya semakin tampan dan gagah.
Penampilan yang sederhana itu membutakan banyak wanita-wanita yang ada di majelis itu. Dan Aldo pun sedikit melirik kepada ustadz Zakir. Lalu ustadz Zakir pun menaikkan jempolnya seraya berkata "kamu pasti bisa Aldo".
Aldo pun akhirnya memulai ceramahnya.
"Namun perlu kalian ketahui ada satu makhluk jelmaan dari Tuhan yang bisa membuat kita kepikiran siang dan malam. Kalian tahu apa itu? tanyanya ke para jama'ah."Seddi tau rilaleng ati degaga nengka karebanna lao ri idi. Pujaan hati yang tak tak pernah berkabar untuk datang menghampiri...."
Tak kerasa sudah hampir satu jam Aldo berdiri di atas mimbar membawakan tausiahnya, namun para jama'ah yang menyaksikan merasa tidak bosan dan bahkan merasa terhibur dengan tausiah yang dibawakan oleh Aldo, apalagi para akhwat. Mata mereka selalu terfokuskan pada wajah tampan rupawan ustadz Aldo, tanpa terkecuali dengan sosok wanita yang berada pada pojok kanan masjid, dia jarang sekali menatapkan matanya pada Aldo, dia selalu menunduk, dia pun sesekali menoleh ke Aldo, apabila Aldo membuat keriuhan kembali.
Aldo pun akhirnya selesai dengan tausiahnya dan dihampiri oleh ustadz Zakir.
"Masyaallah. Ente memang bener-bener hebat. Bisa membuat para jama'ah senang. Apalagi para Ikhwannya," ucapnya dengan menepuk pundak Aldo.
"Terimakasih, Alhamdulillah ustadz. Akhirnya saya bisa menjalankan amanah ini dengan baik."
"Yaudah, sebagai rasa bangga ustadz ke Aldo ... mari kita makan dulu, pasti lapar tuh, habis ceramah."
"Makasih, ustadz."
Selesai makan-makan Aldo pun berpamitan pulang kepada ustadz Zakir dan teman-temannya disana, sambil bersalaman.
"Yaudah, ustadz, Aldo mau pulang dulu ... sekali lagi, makasih ustadz, atas traktirannya."
"Iyah, sama-sama Aldo ... Ente hati-hati di jalan, banyak virus."
"Virus apa, ustadz?"
"Virus. Wanita," candanya dengan temannya.
"Ah, ustadz bisa aja. Yaudah Aldo pulang dulu ya ustadz. Assalamualaikum," ucapnya menunduk.
Mereka pun menjawab salam Aldo serentak "Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh."
Sesampainya di luar Aldo kembali dihadang oleh tiga wanita yang cantik untuk berfoto-foto.
"Ustadz Aldo. Boleh foto bareng."
"Boleh kok. Ayo kita foto bareng-bareng."
Setelah selesai berfoto-foto. Tanpa disengaja Aldo menemui wanita yang dia temui di WC tadi. Perlahan Aldo mendekati wanita itu. Jantung Aldo yang tadinya rileks, kembali berdebar. Lalu dalam hatinya bertanya-tanya.
"Apakah yang dikatakan ustadz Zakir. Benar?"
"Apakah ini yang dimaksud dengan virus cinta?"
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul seketika di dalam hati Aldo yang berdebar itu.
Aldo memberanikan diri untuk menghampirinya. Namun tiba-tiba dia dipanggil oleh sahabatnya bernama Rian.
"Aldo ...!"
Dia pun langsung memutuskan langkahnya dan berbalik menoleh ke Rian. Aldo pun akhirnya tak jadi menghampiri wanita itu. Aldo menuju ke Rian sambil melirik wanita itu dengan penuh penasaran.
"Eh. Kamu Rian. Ada apa?"
"Oh iya. Kamu lagi ngapain disitu?"
"O-h nggak. Barusan keluar juga tadi," ucapnya dengan gugup.
"Oh gitu."
"Ohiya. Besok kamu ada kesibukan, nggak?"
"Hmm. Enggak juga sih, palingan cuman ngajar aja."
"Oh gitu."
"Kan besok aku ada acara syukuran di rumah. Kamu datang ya bro." ucapnya menepuk pundak Aldo.
"Oh iya. Insyaallah aku pasti datang."
"Ohiya. Satu lagi. Besok kamu tampil yang kece ya pak ustadz. Ada yang mau aku kenalin. Ok."
"Sama sia ...."
"Yaudah. Aku pergi dulu ya bro. Ada urusan sebentar," ucapnya sambil menggas motornya dengan keras.
Setibanya Aldo di rumah, Aldo langsung masuk ke kamarnya dan membanting badannya ke kasur sambil menatap langit-langit kamar. Dan dia kembali teringat dengan wanita pemilik diary itu, yang dia temui di tangga tadi. Dan rasa penasarannya kemabali bertambah saat dia akan dipertemukan dengan seseorang yang dia tidak ketahui besok di rumah sahabatnya. Perasaan Aldo tak karuan, disisi lain dia bahagia karena telah menemukan sosok wanita yang dia cari selama ini. Dan disisi lain dia merasa bingung dengan siapa dia akan di pertemukan besok oleh sahabatnya.
Pada malam hari Aldo tengah mengerjakan tugas di bawah lentera cahaya lampu belajarnya, waktu larut malam. Matanya sudah mulai merah karena kelelahan. Dan akhirnya dia memutuskan untuk segera tidur agar mendapatkan tidur yang cukup untuk memulai aktivitasnya kembali besok. Aldo langsung merebahkan tubuhnya di kasur, sambil menatap rembulan yang ada di balik jendela. Dia kembali teringat dengan segores kata yang terdapat pada diary itu dan mengucapkannya.
"Aku tunggu kedatanganmu imamku."
Pagi pun tiba, ayam yang berkokok bergantian membuat Aldo terbangun dan menggerakkan sedikit badannya. Aldo langsung mengambil handphonenya dan melihat jam.
"Astaga. Udah jam 08:00 lewat."
Dia pun langsung berlari masuk ke WC untuk mandi.
Aldo pun akhirnya keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian yang agak sedikit amburadul karena tidak sempat untuk memperbaikinya. Dia lewat dekat kedua orang tuanya yang sedang makan. Lalu ia dipanggil oleh ibunya.
"Aldo. Mau kemana? Sini makan dulu."
"Aku udah terlambat. Bu."
"Sudah makan dulu sini, Nggak boleh keluar kalau orang lagi makan," nasehat ayahnya.
"Iya, iya, Pah."
Aldo hanya makan sepotong roti dan minum sedikit air. Dan langsung keluar dengan roti yang masih ada dalam mulutnya.
"Aku, keluar dulu ya. Bu."
"Eeeh, Aldo tunggu dulu."
"Hmm." Hanya pasrah.
Ibunya pun langsung menghampirinya dan memperbaiki setelan kancing kemeja Aldo yang berantakan nggak tau arahnya kemana.
"Kok. Pak ustadz, amburadul begini."
"Hehe. Maaf. Bu, soalnya buru-buru."
"Emangnya mau kemana. Buru-buru banget."
"Mau kerumah temen. Bu."
"Temen. Apa temen nih," ucapnya melirik
Aldo hanya tersenyum malu.
Setelah Aldo kembali dengan passionnya yang gagah. Aldo pun berangkat ke rumah sahabatnya dengan menggunakan motor harley kesayangannya. Dari pemberian ayahnya yang telah dia peroleh dari keberhasilannya menghalalkan ayat suci Alquran, sebanyak lima juz.
Sesampainya Aldo di rumah Rian, dia mendapati banyak sekali orang. Aldo akhirnya menelpon Rian, namun tidak diangkat olehnya. Namun tidak lama berselang Aldo merasakan sebuah hembusan angin yang lembut menerpa wajahnya dan meniup rambutnya, lalu Aldo membalikkan pandanganya memandang penghujung jalan. Aldo penasaran sambil menatap seseorang itu dari kejauhan dengan dahi mengerut. Dia semakin mendekat dan warna baju dan jilbabnya yang semakin terlihat, semakin dekat lagi Aldo mulai mengenali wajah itu. Ternyata yang datang adalah wanita yang selama ini membuat dia penasaran. Dia pun tersenyum sambil menatap Aldo, dan seketika jantungnya kembali berdegup kencang. Dia sangat manis mengenakan jilbab Mina, berwarna kuning dengan wajah bulatnya, dan bajunya yang berwarna hitam menambah keanggunannya. Lesum pipinya yang nampak ketika dia tersenyum, membuat jiwa penasaran dari ustadz muda ini, semakin meronta-ronta.
Dan dalam hatinya kembali terucap pertanyaan, serta diiringi detakan jantung yang kuat.
"Siapakah dia ya tuhan?"
"Namanya siapa?"
Ternyata wanita itu pergi ke rumah Rian, dan tidak bisa lagi dipungkiri jiwa penasaran Aldo sangat memuncak. Dalam hatinya kembali terucap.
"Apakah dia ...."
Rasa penasaran takjub Aldo langsung buyar ketika, Rian datang.
"Wes. Bro. Kirain nggak mau datang," ucapnya menepuk pundak Aldo.
"Engga lah, kalo aku bilang datang ya. Pasti datang lah," ucapnya menepuk pundak kembali.
"Yaudah. Ayo kita masuk?"
"Ohya. Yang mau kamu kenalin ....?"
"Udah ... nanti kamu juga tau kok," ucapnya menarik Aldo.
Setibanya di dalam Aldo merasakan ada yang aneh dalam perasaanya, jantungnya kembali berdetak, entah apa yang mendetakkannya. Karena tidak lama lagi dia akan menemukan jawaban dari rasa penasarannya selama ini. Dia pun disuruh duduk di kursi untuk menyantap makanan bersamaan dengan teman-teman Rian. Rian pun datang dengan membawa semua teman-temannya untuk ikut makan bersama.
"Ayo. Silahkan duduk."
"Iya," ucapnya silih berganti.
Tanpa disangka ternyata yang duduk di depan Aldo, adalah wanita si diary itu. Aldo sesekali memandang wanita itu, ketika wanita itu memandang dirinya dia langsung menundukkan wajahnya.
"Ini kak, ada ayam," ucapnya sembari mendekatkan makanan itu ke Aldo.
Aldo langsung memandang wajahnya, dan dia pun tersenyum kepada Aldo. Dan membuat Aldo gugup seketika.
"O-h iya. Makasih."
Rian pun melirik mereka berdua dengan tersenyum.
Nikmatnya makanan yang mereka santap, akhirnya telah usai, satu persatu teman-teman Rian pun berpulangan.
"Ohya. Syah, kamu tunggu disini dulu ya, ada yang mau aku omongin. " ucap Rian. Aldo yang melihat Rian menahan Aisyah pulang, semakin membuat dia penasaran. Dia pun tak kuasa menghabiskan makanannya walaupun tinggal sedikit.
"Ternyata ... namanya Aisyah," ucap dalam hatinya.
"Ohya Aldo. Nih kenalin Aisyah. Sepupu aku."
Aldo pun terkejut dan terdiam. Dan tak bisa berkata apa-apa. Jantungnya berdetak tak karuan. Ternyata wanita yang membuat dirinya penasaran selama ini adalah sepupu sahabat dia sendiri, dia bernama Aisyah Wulandari.
"O-h iya. Kenalin saya Aldo."
"Aku Aisyah."
Mereka pun saling menatap satu sama lain, wajah Aisyah yang bulat dan bulu mata yang melentik, membuat Aldo hanya bisa melongo, senyuman dari Aisyah membuat Aldo pun ikut tersenyum padanya.
"Dan. Asalkan kamu tau, Syah. Aldo ini hafidz sekaligus ustadz juga loh."
"Oh ya." ucapan singkat darinya.
Aldo kembali tersenyum malu.
"Kalau. Nggak salah kakak yang bawain tausiah di masjid agung ya?"
"Iya." ucapan singkat dari Aldo.
"Ohya ... kalau nggak salah. Kamu yang punya buku diary itu ya," Aldo kembali bertanya.
"Iya. Kak."
Rian merasa sangat asik dan bahagia melihat percakapan itu, sehingga terlintas dalam benaknya, dan berkata dalam hatinya. "Mungkin Aldo adalah titisan tuhan untuk menjadi imamnya Aisyah ... tante aku sudah mendapatkan pria terbaik untuk Aisyah ...."
"Oh. Ternyata, kalian udah pernah ketemu?"
"Yaa. Cuman ketemu ... nggak sengaja sih," ucap Aldo dengan mengelus leher belakangnya.
"Iya. Aku, ketemu sama kak Aldo, itu di WC dekat tangga masjid," tambah Aisyah.
"Oh. Gitu toh," ucapan singkat dari Rian.
Setelah bincang-bincang mereka selesai. Akhirnya Aldo berpamitan pulang dengan Rian dan juga kedua orang tuanya.
"Ohya. Bro, aku, mau pamit pulang dulu ya ... Om, Tante," ucapnya sambil mencium tangan.
"Aku. Pamit ya. Aisyah."
Aisyah membalasnya dengan sedikit senyum dan anggukan.
Sepuluh langkah Aldo menuju motornya. Dia pun kembali berbalik badan dan memandang Aisyah. Dia pun tersenyum mendapat senyuman dari Aldo.
Ustad muda ini pun akhirnya pulang. Dengan membawa sejuta kebahagiaan, karena semua rasa penasarannya selama ini telah terjawab di acara syukuran itu. Dia pun menikmati perjalanan dengan tersenyum dengan iringan angin yang sejuk, sembari berkata dalam hatinya.
"Aisyah Wulandari. Apakah kau adalah titisan tuhan untukku ...."
Aisyah pun tetap berdiri di teras rumah dengan senyumannya yang manis, yang memandang kepergian Aldo sembari berkata dalam hatinya.
"Aldo. Apakah kau adalah titisan tuhan untukku ...."
Aldo dan Aisyah pun akhirnya berteman semakin akrab, mereka berdua pun sering sekali bertemu. Kemajelis bersama, ke toko buku bersama, kadang sering berjualan bersama, dan mendapat dukungan pula dari sahabatnya Rian.


0 Comments