Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam
Pancaran sinar matahari yang menyengat, angin timur yang menghembus dengan syahdunya, burung elang yang berputar mengitari sawah yang luas seakan-akan mengintai, ular sawah yang nampak bersembunyi di balik gumpalan-gumpalan tanah, dan katak yang berlompat-lompat silih berganti. Hamparan sawah yang amat luas sejauh mata memandang, keringat yang bercucuran akibat lelah yang terlampiaskan, hempasan demi hempasan cangkul yang keras di pinggiran sawah, membuat wajah hitam pekat itu berbintik-bintik tanah. Panas teriknya matahari tidak menyurutkan semangat dari Sang petani dari balik saung.
"Tubuhku yang gatal ini, masih bisa disembuhkan ketika aku mandi sore nanti ... sementara sawah yang tak tergarap hari ini, akan menjauhkan ku dari berkah Sang ilahi."
Hempasan cangkul yang ia lakukan membuat percikan lumpur tanah tak terhindarkan dari wajahnya. Keringan dan lumpur kini telah menjadi satu menciptakan rasa gatal yang tiada tara.
Namun rasa gatal itu bagaikan telah tergaruk dengan panasnya bola api alam semesta yang menukik menerpa pundak itu. Bulu mata yang melentik, terpaksa harus bermaskarakan dengan lumpur tanah, sesekali mata itu harus terpejam karena perihnya percikan lumpur itu, tak jarang pula ia harus mencicipi amisnya lumpur tanah, yang tak sengaja masuk menyentuh lidah. Baju yang tadinya kering dan segar, kini berubah menjadi berlumuran lumpur yang bermancuran mengenai tubuhnya yang kuat itu. Sesekali ia berdiri tegap dan menghadap ke sebelah barat memandang penghujung jalan, dan dirinya berharap akankah ada keajaiban yang datang.
Sesekali Sang petani itu menaruh cangkulnya di pinggiran sawah, dan melanjutkannya dengan mengangkat segumpalaln-segumpalan tanah yang terkoyak oleh traktor lalu diangkatnya ke pinggiran sawah. Panas teriknya matahari sedikit terobati dikala angin dari ufuk timur menghembus dan membelai kulit yang berlumuran lumpur itu, baju yang sobek dan celana jins yang sobek, membuat si lumpur tanah dengan bebas merayap di tubuhnya yang keriput itu. Hamparan sawah yang indah, tak seindah hidup dari penggarap tanah yang kaya akan rasa syukur. Sejuknya belaian angin, tak sesejuk hati seorang penggarap tanah yang kaya akan kesabaran. Syahdunya alunan kicauan burung, tak se syahdu alunan siulan dari seorang penggarap tanah yang menghibur dirinya dikala duduk santai di sebuah saung.


0 Comments