Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam

           Kokokan ayam jantan di belakang rumah dan lantunan salawat subuh di masjid, Ibuku terbangun.
           "Pah, Pah, bangun ... ayo kita sholat subuh." ajaknya dengan nada yang serak."
           Tiba-tiba terdengar hentaka kaki di dalam kamar Ibuku. Aku pun terkejut mendengar hentakan kaki itu yang menggetarkan kasurku. Ayahku selalunya begitu, tidak mau di ajak sholat, dia lebih mementingkan elusan setan dibanding panggilan suara adzan. Tanpa ada sepatah kata lagi, Ibuku pun langsung keluar dan segera mengambil air wudhu, bersiap-siap untuk melaksanakan sholat subuh. Namun Ibuku tidak ke masjid, Ibuku hanya melaksanakan sholat di rumah. 
           Terdengar isakan tangis kecil dari balik kamar ku. Aku pun hanya bisa mendengar isakan tangis itu dari dalam kamar, aku mau keluar untuk menghampiri Ibu, namun aku pun juga takut, Ayah malah bangun dan memarahi kembali Ibu. Jadi, apalah daya aku hanya bisa terbaring gelisah di balik kamar ini. Namun aku tak tahan mendengar tangisan Ibu yang semakin terdengar jelas, kegelisahan ku semakin memuncak.
           "Aaaaagh!"
           Aku pun langsung keluar dengan amarah dan hendak melabrak Ayah, namun ketika aku berdiri di depan pintu kamar, aku melihat Ibu yang tengah menangis memeluk sebuah Al-Qur'an, Ibuku sudah menjadikan Al-Qur'an itu sebagai tempat penenang hati, dikala Ibuku mendapatkan perlakuan buruk dari Ayah. Lalu aku pun kembali teringat dengan kata-kata Ibu, yang selalu melarang ku untuk melawan Ayah.
           "Nak, kamu jangan coba-coba melawan, Bapak yah."
           "Tapi, Bapak selalu kasar sama, Ibu!"
           "Sejahat apapun seorang, Ayah, pasti di dalam lubuk hatinya paling dalam, masih tersimpan rasa peduli sama keluarga ... sudah, Nak ... Ibu nggak papa ... yang penting, Amir sehat," ucapnya dengan tersenyum.
           Ketika aku teringat dengan sepotong kata dari Ibu, dan melihat senyumnya pada waktu itu yang sangat tulus. Membuat ku tak tega harus meluruskan niatku untuk melabrak Ayah, bagaimanapun juga Ayah adalah panglima untuk keluargaku.
Aku pun hanya bisa tertunduk lesu dan mendekati Ibu, lalu mendekapnya dengan erat dikala matahari sudah ingin menampakkan dirinya di balik pepohonan yang rindang dari balik jendela. Ibuku pun lalu membalas dekapan itu, dengan cucuran air mata di pipinya, aku pun mengelus wajah Ibu dan menghapus air matanya. 
           "Ibu, jangan nangis lagi ya, Bu," ucapku dengan memegang pundak Ibu.
           Ibuku hanya bisa mengangguk dan menangis, air matanya sudah membasahi mukena yang Ibuku kenakan. Ibuku pun lalu mengelus kepalaku dan menciumnya, dekapan Ibuku sangat erat, dan semakin erat dikala waktu subuh itu.
           Kasih sayang seorang Ibu bagaikan hamparan lautan yang luas, apabila lautan itu dituangkan dengan satu ton empedu, mungkin empedu itu tak berasa, Begitulah sosok Ibu, apabila dituangkan kata-kata pahit, dirinya tetap akan dengan rasa kasih sayangnya.