Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam
Hari ini adalah hari Senin, yang merupakan hari dimana Aku dan teman-teman ku akan segera masuk di sekolah menengah awal di SMP negeri 3 Awangpone, sebagai seorang siswa yang akan menjajakkan kaki di bangku SMP tentunya Aku tidak boleh terlambat. Di pagi yang cerah Aku terbangun dan sedikit menggeliat, kemudian Aku bangkit dari tidur dan berdiri sempoyongan, lalu membuka horden jendela dan membiarkan cahaya matahari pagi masuk ke dalam kamarku, lalu Aku berdiri sejenak menikmati hangatnya paparan sinar matahari yang segar di pagi hari. Setelah itu Aku lalu beranjak keluar, melihat jam yang tertempel di dinding atas televisi, Aku pun terkejut ternyata jam sudah menunjukkan pukul 07:30 yang artinya mobil penjemputan ke sekolah akan segera tiba. Tanpa berlama-lama lagi Aku langsung menuju ke kamar mandi, namun Aku hanya mandi ala kadarnya, yang sering disebut oleh warga di desa ku dengan sebutan mandi tikus.
Setelah mandi Aku langsung berkemas dan mempersiapkan segala perlengkapan yang Aku butuhkan, seperti buku, pulpen, dan penghapus. Aku mempersiapkan segalanya dengan keadaan terburu-buru, sampai-sampai baju yang Aku kenakan berantakan, atau bisa dikata pincang sebelah. Tiba-tiba terdengar suara Ibu yang memanggilku untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah, agar stamina dan imun tubuhku akan selalu terjaga, ujar Ibuku dikala sering membangunkan ku dipagi hari.
Dengan langkah seperti orang di kejar hantu, Aku lalu duduk di samping Ayah di depan meja makan, Aku lalu mengambil sedikit nasi di piring dan sepotong tempe, ketika hendak mengauk nasi dengan tangan tiba-tiba Ayah menegurku.
"Cuci tangan dulu," nasihat dari Ayah.
Lalu Ayah mendekatkan kobokan didekatku dan menyuruhku untuk mencuci tangan terlebih dahulu, Aku pun lalu mencuci tangan dan segera menyantap makanan dengan terburu-buru. Ayah yang memperhatikanku kini menegurku kembali.
"Pelan-pelan saja, nanti kamu keselek tuh," ujar Ayahku.
Tidak lama kemudian akhirnya mobil pengantar anak sekolah tiba tepat di depan rumah dengan membunyikan klakson mobilnya berkali-kali. Pak Beddu yang merupakan seorang sopir nampak kesal karena Aku tak kunjung keluar juga, sementara waktu semakin berjalan. Aku pun akhirnya menyudahi sarapanku dan langsung bergegas keluar mengambil tas serta dasi yang masih ada di tanganku. Segera Aku langsung memakai sepatu tanpa kaos kaki, dan langsung berlari menuju mobil.
Perasaanku sudah agak mulai lega sedikit karena Aku sudah berada di dalam mobil, namun seiring berjalannya mobil, ternyata mobil yang Aku tumpangi tidak sedikit penumpang, banyak para siswa juga yang ikut di mobil Pak Beddu, sampai-sampai di dalam mobil kijang merah tua yang keluaran 1977 itu pun penuh. Hingga di depan mobil harus di isi dengan lima orang, mau tidak mau Aku terpaksa duduk di tengah perseneling mobil, dan tidak jarang pula sikut Pak Beddu sering mengenai dadaku ketika ingin memainkan perseneling.
Pada akhirnya Aku dan teman-teman sampai di SMP Negeri 3 Awangpone. Kami pun segera berlarian keluar dari mobil dan menuju ke lapangan untuk melaksanakan upacara, yang merupakan kebiasaan rutin dan wajib untuk dilaksanakan bagi setiap pelajar. Lalu Aku ikut bergabung di kelas 7C mengikuti barisan mereka di paling belakang. Setelah Aku berdiri di lapangan perasaanku kini sudah agak mendingan karena tiba di sekolah dengan tepat waktu. "Akhirnya bisa sampai tepat waktu," ucapku dalam hati lega.
Namun tiba-tiba perasaan legaku berubah menjadi perasaan yang was-was karena melihat ada beberapa siswa yang disuruh untuk naik ke atas didekat bendera karena tidak beratribut lengkap. Segera Aku memeriksa segala perlengkapan dibadanku, perasaanku bertambah semakin kacau ketika mengetahui banyak atribut yang belum melekat pada seragamku. Aku lalu mengambil dasi dari kantong celanaku dan segera memasangnya sebelum pengawas datang. Setelah dasi telah terpasang rapi perasaanku kini sudah mulai agak lega, namun yang namanya pengawas pasti akan lebih jeli. Ketika pengawas tiba di sampingku, Aku nampak biasa-biasa saja, namun ternyata pengawas kembali berbalik lalu mengangkat celanaku, betapa kagetnya Si pengawas melihat betisku yang tidak mengenakan kaos kaki.
"Mana kaos kakimu," bentak pengawas padaku.
"Maaf, Pak. Saya lupa," jawabku pelan menunduk.
"Yaudah, kamu berjemur di atas," bentaknya lagi padaku.
"Pak, tolong jangan hukum saya, Pak," mohonku pada pengawas.
"Sudah cepat, cepat," perintahnya sambil mendorongku ke depan.
Dan Aku hanya bisa pasrah melangkahkan kaki ke depan, teman-temanku yang lain malah memperhatikanku, ada yang memperhatikanku dengan tatapan simpati, namun ada juga yang menatapku kesenangan. Aku akhirnya melangkahkan kaki perlahan mendekat dengan para siswa yang tidak mengikuti aturan. Sesampainya di depan Aku hanya bisa tertunduk lesu karena malu disaksikan oleh banyak siswa yang upacara, namun berbeda dengan teman-teman didekatku, mereka kelihatan biasa-biasa saja seperti tidak malu sedikit pun, padahal mereka melakukan pelanggaran lebih dariku.
"Kok, dia biasa-biasa aja ya, padahal pelanggarannya lebih dariku."
"Tapi sudahlah, memperhatikan kekurangan orang lain itu tidak baik."
"Seandainya tadi malam Aku mempersiapkan perlengkapan, mungkin Aku tidak akan seperti ini."
Ucapan-ucapan itu tiba-tiba terucap dalam hatiku yang menyesal dengan apa yang terjadi pada hari ini, semenjak keterlambatan itu Aku sudah sedikit berusaha untuk tidak terlambat lagi, dari perlengkapan belajar telah kupersiapkan lebih awal agar tidak membuat Pak Beddu menunggu lagi, dan disitulah Aku mulai sadar bahwa bukan kita lah yang menciptakan keterlambatan itu hanya saja waktu lah yang terus berputar namun kita lalaikan. Orang Cina mengatakan bahwa waktu itu adalah uang, namun berbeda denganku bahwa waktu itu adalah proses.


0 Comments