Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam

           Di sebuah tumpukan sampah yang kotor dan berbau tidak sedap, yang membuat warga merasa tidak nyaman. Namun tidak sedikit pula banyak orang yang memanfaatkan sampah-sampah itu sebagai mata pencaharian. Di tumpukan sampah yang menggunung bagaikan gunung Semeru itu, terdapat seorang anak yang berusia tujuh tahun, menjadikan lumbungan sampah itu sebagai mata pencaharian.
           Dipanas teriknya matahari yang menyengat nampak seorang anak berbaju kusut dan celana cakar pendek tengah mengadu nasib di lumbungan sampah, dia bernama Aco, dia kembali di lumbungan sampah itu dengan membawa karung kesayanganya, Aco memungut sampah-sampah plastik itu tanpa kenal lelah, sesekali Aco harus mengusap dahinya dengan lengan.
           "Aku lebih suka mendung, dari pada panas seperti ini," kata Aco dengan menoleh ke langit.
           Sudah setengah hari Aco hanya menghabiskan waktunya di lumbungan sampah itu, setelah melihat karungnya sudah terisi penuh, Aco akhirnya bertolak pulang dengan membopong karung yang berisi plastik-plastik itu untuk dijual. Aco pun berjalan mengitari jalanan dengan wajah yang lesuh, seolah-olah meratapi dirinya yang sekarang.
           Diperjalanan pulang tiba-tiba Aco melihat seorang anak yang seumuran dengannya, anak itu tampak bahagia sekali bermain dan bercanda bersama dengan orang tuanya, Aco kembali berbalik badan, namun tidak ada yang dia jumpai selain kebahagiaan orang di sekitarnya. 
           Aco merasa lelah dengan kehidupannya, sampai berjalan pun dia sudah tak mampu. Akhirnya Aco singgah berteduh di sebuah ruko, disela lelahannya yang mulai putus asa, Aco menyandarkan kepalanya di tembok dan mengingat segala pesan Ayahnya agar dia selalu bersemangat dalam menjalani hidup.
           "Aco ... ketika, Bapak nanti sudah tidak ada. Kamu tidak boleh menyerah dengan keadaan, Bapak nggak mau liat, Aco nangis, Aco harus jadi laki-laki tangguh ... Aco tak perlu berdasi, Bapak cuman ingin Aco bisa bertanggung jawab dan jangan menyerah dengan parahnya kehidupan."
           Ucapaan dari Ayahnya itu sudah Aco jadikan sebagai motivasi untuk dirinya agar selalu bisa bersemangat untuk menjalani hidupnya. Sangking lelahnya, Aco akhirnya tertidur di ruko itu tanpa memperdulikan debu-debu jalanan.
           Dilelapnya Aco tertidur tiba-tiba Aco merasakan sebuah bisikan dari telinganya yang selalu menyebut-nyebut namanya.
           "Aco ... Aco ...."
           Seketika Aco langsung terbangun terpingkal-pingkal dan menoleh di sekelilingnya, namun tidak ada yang dia temui. Akhirnya Aco kembali bangkit dari lelahnya dan berlari sangat kencang di pinggiran jalan. Kemudian Aco memasuki sebuah gang menuju perumahan warga.
           Diperjalanan yang cukup melelahkan itu, Aco melihat sebuah mangga yang bergelantung rendah di dekat rumah warga, dengan perut yang lapar dan wajah yang merangut ngos-ngosan, Aco merasa sangat lapar, karena seharian tidak pernah makan, Aco pun berniat untuk mengambil mangga itu. Namun, ketika tanganya berjarak lima senti dari mangga itu, tiba-tiba dia kembali teringat dengan pesan Ayahnya untuk jangan mencuri.
           "Dan ingat, walaupun kita miskin, bukan berarti kita harus mencuri ... ingat itu, Nak."
           Aco akhirnya kembali mengundurkan niatnya, lalu kembali mengambil karungnya yang berisi plastik itu, dia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan pohon mangga itu, disela-sela larinya yang kencang, air mata Aco menetes antara muak dengan kehidupannya, dan pesan-pesan Ayahnya yang dia harus jalani.
           Aco berlari dengan kencang tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, tiba-tiba dia tersandung dan akhirnya terjatuh, karung yang dia bawa langsung terhempas dan plastik-plastik itu berserakan di jalanan. Aco lalu memungut plastik-plastik itu dengan mata yang rabun karena pusing seharian tidak pernah sarapan, apalagi tenaganya banyak terkuras setelah banyak berlari. Aco pun tersungkur karena kelelahan dan kehausan. Matanya nampak meredup perlahan menatap jalan.
           Tiba-tiba ada sesosok yang membantu Aco untuk berdiri dan membopongnya untuk berjalan, namun Aco tidak mengetahui siapa orang itu, karena matanya yang rabun tak mampu melihat dengan jelas. 
           Tidak lama kemudian sosok itu menyinggahkan Aco di sebuah masjid, sebelum sosok itu meninggalkan Aco dia membisikkan sepatah kata kepada Aco dengan sangat lembut.
           "Kalau perasaan Aco sedang gundah gulana, masuklah ke mesjid ini."
           Setelah mendengar bisikan itu hati dan perasaan Aco kini telah lebih membaik, Aco akhirnya tersenyum mendengar bisikan itu dari mulut si sosok itu.
           Tiba-tiba sosok itu pun perlahan meninggalkannya di masjid itu. Aco berusaha mengikuti sosok itu dengan merangkak, namun Aco tidak bisa melihat dengan jelas wajah sosok itu. Aco hanya bermaksud ingin berterimakasih kepada sosok itu, namun sosok itu seolah tersenyum di depan Aco dan melambaikan tanganya, sedikit demi sedikit sosok itu menghilang terbawa angin yang lewat.
           Aco tak mampu membendung air matanya, lalu menangis dan memandang gedung masjid serta hamparan sajadah di dalamnya. Kini Aco mulai sadar bahwa masalah tidak akan pernah habis selagi bumi ini masih ada. Aco lalu mendekati sebuah Al-Qur'an dan membukanya. Disaat membuka Al-Qur'an itu Aco tiba-tiba terkejut ketika melihat sebuah sobekan kertas kecil yang terselip di halaman pertama surah Al-Baqarah.
           "Datanglah padaku ...."
           "Bacalah aku ...."
           "Aku akan membuatmu bahagia ...."
           "Aku tunggu kedatangan, Aco ...."
           Aco langsung terkejut setelah membaca sobekan kertas itu, jantungnya langsung berdetak dengan kencang. Mimik wajahnya langsung merangut dengan air mata yang masih ada di pipinya.
           "Ko, namaku ada di sobekan kertas ini?"
           "Apakah ini dari, Bapak?" 
           Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba tersirat dari mulut Aco yang menatap kertas itu dengan heran. Sobekan kertas itu pun seolah menjawab bahwa sosok itu adalah Ayahnya.