Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam
"Aaaghh," ucap Wahyu yang sedang menggeliat.
Di suatu pagi yang cerah, paparan sinar matahari telah masuk menembus jendela kamar Wahyu yang di lantai dua. Namun Wahyu masih saja berbaring, alarm handphonenya sudah beberapa kali berbunyi, namun tak pernah dia hiraukan. Tidak lama kemudian handphonenya kembali berbunyi setelah lima menit terdiam, Wahyu langsung meraih handphonenya dengan mata yang masih tertutup, namun kali ini Wahyu tidak mematikan Handphonenya, dia berusaha membuka matanya dengan perlahan, dan betapa terkejutnya dia ternyata jam di handphonenya sudah berada pada pukul 09:00 sementara ujian akhir semester (UAS) akan dilaksanakan sepuluh menit lagi.
"Astaga, ternyata udah jam 9 lewat," katanya dengan kaget.
Akhirnya Wahyu langsung mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan bersiap-siap Wahyu lalu berjalan dengan cepat menuju tangga, namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat cermin di lemarinya.
"Etss, sisiran dulu lah," ucapnya dengan ceria.
Dan seketika Wahyu kembali menyempatkan diri untuk merapikan rambutnya dan mempergagah penampilannya. Baju kemeja lengan panjang dan celana jins hitam yang melekat pada badannya, membuat penampilan Wahyu sudah tak diragukan. Setelah selesai mempergagah penampilan, Wahyu langsung bergegas keluar. Sesampainya dia di luar tiba-tiba Handphonenya berdering, dan yang menelponnya adalah Tohir sahabatnya.
"Halo bro," sapa Wahyu.
"Aku tunggu di rumah, kita berangkat bareng, ok," ucap Tohir di balik telpon.
"Ok, kamu siap-siap aja, aku udah otw nih," ucap Wahyu sambil menaiki motornya.
"Oklah siap," ucap Tohir dan menutup telpon.
Akhirnya Wahyu bergegas menuju ke rumah Tohir dengan mengendarai motor Scoopynya dengan kebut-kebutan. Sesampainya di depan rumah Tohir, ternyata Tohir telah bersiap menunggu jemputan dari Wahyu, hingga akhirnya mereka berdua pun berangkat bersama menuju masjid agung.
Kali ini UAS dilaksanakan di masjid agung, berhubung situasi kampus belum memungkinkan untuk di masuki, karena mengingat virus corona semakin meningkat, hingga kampus harus ditutup untuk sementara waktu. Ketika melewati kampus Wahyu dan Tohir hanya menoleh ke samping kanan, melihat gerbang kampus yang tertutup rapat dan dua satpam penjaga yang berdiri disana.
Tidak lama kemudian akhirnya Wahyu dan Tohir sampai di masjid agung, karena memang masjid agung tidak jauh dari kampus, maka dari itu tidak sedikit mahasiswa menjadikan masjid agung sebagai pelarian sementara untuk melaksanakan proses perkuliahan, tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun dipergunakan juga sebagai tempat perkuliahan.
Setelah sampai di masjid agung, Wahyu dengan santainya ingin membakar sepuntung rokok sebelum melaksanakan perkuliahan, karena menurutnya dengan sepuntung rokok dapat merilekskan otak ujarnya. Namun dengan sigap Tohir menegurnya.
"Woi, nanti aja tuh rokok, kita udah terlambat, nih," ucap Tohir dengan nada yang sedikit keras dan menepuk pundaknya.
"Iya, iya, tunggu," ucap Wahyu dengan pasrah.
Mereka berdua pun akhirnya bergegas masuk ke masjid, di bagian belakang masjid, namun tiba-tiba terdengar suara alunan musik dan suara orang yang bernyanyi di balik ruangan bawah masjid agung, Wahyu pun merasa penasaran dengan suara itu, lalu Wahyu menanyakan lantunan lagu itu kepada Tohir.
"Eh, kok ada orang nyanyi sih di sana," ucap Wahyu menunjuk ruangan itu.
"Hmm, kamu enggak liat, banyak orang kondangan ... disitu ada acara pernikahan," ucap Tohir memandang orang yang berlalu lalang di depannya.
Di siang hari yang mana perut sudah mulai keroncongan, tiba-tiba terlintas di pikiran Wahyu untuk masuk di acara kondangan itu sebagai tamu, Wahyu pun mulai berfikir sambil mengangguk-angguk, Tohir yang melihat Wahyu seperti orang yang memikirkan sebuah rencana akhirnya menanyakannya.
"Eh, kamu lagi mikirin apa?" tanya Tohir dengan wajah yang penasaran.
"Hmm ... eh, kamu enggak lapar enggak?" Wahyu berbalik bertanya kepada Tohir dengan menatapnya sambil menaikkan kening beberapa kali.
"Maksud kamu?" tanya Tohir kembali.
"Nah, disanakan ada kondangan, gimana kalau kita masuk ... makan-makan," ujar Wahyu dengan menatap Tohir tersenyum licik.
"Ah, kamu itu ada-ada aja, ayo kita masuk, teman-teman udah nunggu kita, tuh," ucap Tohir tidak menghiraukan Wahyu.
"Eets, tunggu dulu, kesempatan enggak datang dua kali," ucap Wahyu dengan menarik tangan Tohir dan kembali menaikkan keningnya.
"Eh, mana mungkin kita bisa masuk enggak ada undangan, baru kita telat juga, nih," ucap Tohir dengan sedikit kesal.
"Udah kamu tenang aja kalau soal itu mah, lagian pak Edi juga belum datang, kan," ucap Wahyu sambil melihat-lihat di sekeliling.
"Hah, yaudah, yaudah, terserah kamu, lah ... sekarang kita mau ngapain?" tanya Tohir.
Wahyu kemudian membuka tasnya dan mengambil dua amplop kosong yang memang sering dia gunakan masuk ke kondangan. Tohir yang melihat itu agak merasa heran dengan Wahyu, tapi Tohir sudah tidak memperdulikan apa yang Wahyu ingin lakukan, dia hanya pasrah dan mengikuti apa yang diinginkan sahabatnya itu.
"Nah, ini buat kamu," ucap Wahyu sambil memberikan amplop kosong itu ke Tohir.
"Ini enggak ada isinya?" tanya Tohir dengan kaget.
"Udah enggak papa, siapa sih yang ngenalin kita disini, palingan kalau kita masuk dikira tamu undangan," ujar Wahyu dengan santainya.
"Kalau ada apa-apa kamu tanggung jawab, ya," ucap Tohir merasa takut.
"Udah ayo kita masuk, keburu Pak Edi datang nanti," ucap Wahyu sambil menarik Tohir masuk ke kondangan.
Mereka berdua pun akhirnya menyelipkan tas mereka di tempat sepatu. Wahyu dan Tohir akhirnya ikut masuk bersama dengan tamu undangan yang lainnya, Wahyu dengan pedenya ikut menebarkan senyum kepada setiap orang di acara itu, Tohir yang ikut di belakang Wahyu juga menebar senyumnya, namun seperti tidak ikhlas karena ke was-wasannya.
Mereka berdua ikut di belakang para tamu undangan, dan mengambil peran sebagai tamu undangan juga, dan sampai-sampai mereka berdua juga ikut bersalaman dengan kedua mempelai, dan menaruh amplop itu ke dalam tempat amplop yang ada disana. Tanpa menunggu lama, mereka kemudian ikut bersama para tamu undangan mengambil makanan layaknya tamu. Perasaan Wahyu sangat senang, karena apa yang dia inginkan akan tersampaikan, perut yang tadinya keroncongan tidak lama lagi akan terisi dengan asupan nutrisi. Namun berbeda dengan Tohir yang pucat karena merasa takut penyamaran mereka ketahuan.
Setelah mengambil makanan, mereka segera mencari tempat duduk untuk makan bersama. Mereka akhirnya menemukan dua kursi yang kosong di pojok, dengan bahagia Wahyu mengajak Tohir untuk duduk di pojok sana. Wahyu menyantap makanan dengan lahapnya, namun berbeda dengan Tohir, jangankan memakan makanan dengan lahap, untuk menelannya saja dia butuh banyak tenaga.
"Eh, kamu enggak takut ketahuan?" tanya Tohir dengan cemas.
"Udah makan aja, emangnya kamu enggak laper," ucap wahyu sambil mungunyah makanannya.
"Tapi kan-" ucapanya dipotong oleh Wahyu.
"Suut, perut kenyang hati pun senang ... pernah dengar kata-kata itu kan," ucap Wahyu menatap Tohir.
Tohir hanya bisa terdiam mendengar ucapan Wahyu, dan melihat jam tangannya yang tinggal lima menit lagi mereka akan masuk. akhirnya Tohir pun segera menghabiskan makanannya bersama Wahyu.
Setelah usaha mereka membuahkan hasil, yang dimana daya perut sudah terisi penuh, akhirnya mereka keluar dari acara kondangan lalu mengambil tas di tempat sepatu, mereka berdua akhirnya pergi berkumpul bersama teman-temannya dengan wajah yang hingar bingar, tidak lama sesampainya mereka berdua di tangga belakang masjid, tiba-tiba Pak Edi juga sudah datang. Kali ini bukan hanya kelas Wahyu dan Tohir saja yang melaksanakan UAS namun ada kelas lain juga yang akan UAS bersamaan diwaktu itu.
Pak Edi kemudian membagikan soal kepada semua mahasiswa yang hadir, MPI 5 dan MPI 4 akhirnya melaksanakan UAS dengan tenang di tangga masjid agung. Tohir yang masih kepikiran dengan banyaknya amplop yang ada di tas Wahyu, dengan rasa penasarannya, dia lalu menanyakan hal tersebut kepada Wahyu berbisik-bisik.
"Eh, kok kamu punya undangan banyak banget?" itu semua untuk apa?" tanya Tohir sambil mencolek Wahyu.
"Asal kamu tau, undangan ini memang selalu aku persiapkan, siapa tau aja kita dapat kondangan lagi, kan," ucap Wahyu dengan mencandai Tohir, sambil tertawa pelan.
"Dasar gila, nih anak," ucap Tohir tersenyum.
"Soalnya kalau aku denger, alunan musik kaya gitu, ingetnya itu ke makanan," ucap Wahyu tertawa pelan.
"Dasar nih anak, dipikirannya makanan aja," ucap Tohir menggelengkan kepala.
Tidak terasa satu jam proses UAS sudah berlangsung, dan akhirnya Pak Edi menginstruksikan kepada semua para mahasiswa segera mengumpulkan soal-soal dan jawaban mereka.
"Ohya, waktu sudah habis, silahkan dikumpul," himbau Pak Edi kepada para mahasiswanya.
Semua mahasiswa pun bergegas segera mengumpulkan jawaban mereka di depan Pak Edi, setelah semuanya terkumpul, lalu Pak Edi lanjut dengan memberikan kata-kata penutup dan sedikit memberikan motivasi kepada para mahasiswanya.
"Ohya satu pesan dari saya, untuk adik-adik sekalian ... berusahalah untuk menaklukkan diri sendiri, dengan menghalau segala keinginan yang melemahkan niat untuk belajar, karena musuh yang paling sulit ditaklukkan adalah diri sendiri, dengan menaklukkan kemalasan, berarti kita sudah menolong diri sendiri dari ketertinggalan," ucap Pak Edi dengan motivasi yang mengena.
Mendengarkan sepatah kata motivasi dari Pak Edi, semua mahasiswa tercengang dan terdiam, mereka pun menyadari bahwa betapa pentingnya melawan ego sendiri. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Semua mahasiswa nampak bahagia bersua foto bersama Pak Edi, dan begitu pula Wahyu dan Tohir. Setelah UAS selesai, mereka semua pun akhirnya berpulangan, dan begitu pula kepada Wahyu dan Tohir yang pulang saling beriringan, tertawa mengingat tragedi menegangkan dan konyol yang mereka berdua lakukan sebelum UAS. dua sahabat ini memang berbeda karakter, namun keduanya saling mendukung satu sama lain.


0 Comments