IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI MA AL MA'ARIF BILAE


Disusun oleh:

KELOMPOK 4


SURIANTO CAHIR

NIM: 862312019105

DARVIANA

NIM: 862312019112

SARTIYANA

NIM: 862312019124

SURIANI

NIM: 862312019115

WAN ZATIRA

NIM: 862312019121



KATA PENGANTAR

     Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah swt., yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami dan tak lupa pula sholawat dan salam selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw. 

    Pada kesempatan ini, penyusun telah penyelesaikan laporan hasil observasi yang berjudul “Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae” Dalam penyusunan laporan ini, penyusun memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak. Olehnya itu penyusun mengucapkan  banyak terima kasih kepada semua pihak atas kerja sama dan partisipasinya.

1.  Ibu Fitriani, S.Pd.I., M.Pd.I., selaku dosen yang memberikan materi, mengarahkan dan membimbing kami selama menyelesaikan laporan ini. 

2. Bapak Syahruddin, S.Pd.I., selaku Kepala Madrasah di MA Al-Ma’arif Bilae, yang telah memperkenankan penyusun melakukan observasi.

3.  Tim observasi sekaligus penyusun laporan yaitu kelompok IV, yang telah bersama-sama menyusun laporan ini hingga selesai.

        Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa laporan hasil observasi ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan penyusunan laporan-laporan selanjutnya. Besar harapan kami kiranya laporan hasil observasi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.


                                               Watampone, 20 Juni 2021

                                                             Penyusun,


                                                           Kelompok IV



DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I  PENDAHALUAN 1

Konteks Penelitian 1

Fokus Penelitian 3

Tujuan Penelitian 4

BAB II  PEMBAHASAN 5

A. Strategi Manajemen Berbasis Sekolah 5

B. Prospek Guru terhadap Manajemen Berbasis Sekolah 7

C. Peran Siswa terhadap Manajemen Berbasis Sekolah 9

D. Keterlibatan Orang Tua Siswa Terhadap Manajemen Berbasis Sekolah 10

E. Keefektifan Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah 12

BAB III HASIL PENELITIAN 14

                A. Paparan Data 14

                B. Analisis Data 17

                    1. Stengths (Kekuatan)                            17

                    2. Weaknesses (Kelemahaan)                18

                    3. Oppurtunities (Peluang) 19

                    4. Threats (Ancaman) 19

BAB IV PENUTUP 20

                A. Simpulan 20

                B. Saran 20

DAFTAR RUJUKAN 22

LAMPIRAN 23

Instrumen Wawancara 23

Dokumentasi saat Penelitian 24

Dokumentasi saat menyusun Hasil Penelitian 26



BAB I

PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

                Dengan ditetapkannya sistem otonomi daerah sebagai pelaksanaan Undang-undang No 32 Tahun 2004 Pemerintah daerah. Maka dari itu separuh kewenangan pemerintah pusat diberikan kepada pemerintah daerah. Salah satu kewenangan yang diberikan yaitu merupakan kewenangan dalam bidang pendidikan, pemberian ini berlandaskan dengan perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan dari sentralistik ke desentralistik. 

                Tentu perubahan paradigma ini diharapkan agar nantinya meluas pada peningkatan mutu pendidikan di wilayah Indonesia. Ada tiga hal yang mendasar dan perlu diketahui yang pertama yaitu sistem pendidikan yang dilaksanakan secara sentralistik sehingga membuat tingginya ketergantungan terhadap keputusan birokrasi. Lalu yang kedua yaitu kebijakan pelaksanaan pendidikan terlalu berorientasi pada keluaran pendidikan (output) dan masukan (input). Kemudian yang ketiga peran masyarakat, dan teruntuk pula peran orang tua peserta didik dalam pelaksanaan pendidikan masih kurang.

          Perubahan paradigma tentu memerlukan penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik menuju ke desentralistik dengan melalui pengaplikasian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Konsep MBS merupakan sebuah satu kebijakan nasional yang dituangkan dalam Undang-undang No 25 Tahun 2000 tentang Rencana strategi pembangunan nasional tahun 2000-2004, dan terpampang jelas di dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003.

                Dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah sangat diutamakan peran eksekutif sekolah dalam hal ini adalah kepala sekolah. Manajemen berbasis sekolah harus dapat menggerakkan sumber daya personil baik internal sekolah, eksternal sekolah  atau orang-orang lain yang terkait dengan sekolah untuk dapat berperan aktif dalam upaya meningkatkan mutu sekolah. 

                 Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata, yaitu manajemen, berbasis, dan sekolah. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar, serta tempat menerima dan memberikan pelajaran. Berdasarkan makna leksikal tersebut maka MBS dapat diartikan sebagai penggunaan sumber daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran.

                Manajamen Berbasis Sekolah adalah  manajemen sekolah yang dilaksanakan dengan memberikan kewenangan kepada sekolah untuk memanfaatkan seluruh sumberdaya sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Jadi, MBS dapat dimanfaatkan kepala sekolah dalam era otonomi pendidikan dalam mengantisipasi kompetisi pengembangan SDM antar daerah dan antar sekolah.  Sekolah memiliki otonomi yang lebih besar, partisipasi masyarakat ditingkatkan melalui kepemimpinan kepala sekolah bekerja sama dengan Komite sekolah.

               Perlu diketahui bahwa manajemen berbasis sekolah merupakan program dimana lembaga pendidikan atau institusi diharapkan mampu mengelola segala kebutuhan sekolah secara mandiri, yang hanya melibatkan warga sekolah, misalnya seperti kepala sekolah, guru, staf, siswa dan bahkan sampai kepada orang tua siswa dan masyarakat. Maka dari itu manajemen berbasis sekolah dikatakan bermutu apabila menciptakan kerjasama yang baik dan indah antara warga sekolah dengan kondusif. Allah swt., berfirman dalam QS Al-Qashas/28: 77:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Terjemahan:

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”


B. Fokus Penelitian

                Berdasarkan konteks penelitian di atas, media fokus penelitiannya adalah Implementasi MBS di MA Al-Ma’arif Bilae. Adapun sub masalahnya sebagai berikut:

Bagaimana strategi manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae?

1. Bagaimana prospek guru terhadap manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae?

2. Bagaimana peran siswa terhadap manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae ?

3. Bagaimana keterlibatan orang tua siswa terhadap manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae?

4. Bagaimana keefektifan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae?


C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui strategi manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae.

2. Untuk mengetahui prospek guru terhadap manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae.

3. Untuk mengetahui peran siswa terhadap manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae.

4. Untuk mengetahui keterlibatan orang tua siswa terhadap manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae.

5. Untuk mengetahui keefektifan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae.




BAB II

PEMBAHASAN

A. Strategi Manajemen Berbasis Sekolah

                MBS merupakan sebuah strategi yang dianggap mampu untuk memajukan atau meningkatkan kualitas pendidikan. Strategi pada dasarnya yaitu cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Secara umum, implementasi MBS akan berhasil apabila melalui strategi-strategi berikut ini:

     1. Sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal, yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan, pengembangan pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan, akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil.

      2. Adanya peran serta masyarakat secara aktif, dalam hal pembiayaan, proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum. Sekolah harus lebih banyak mengajak lingkungan dalam mengelola sekolah karena bagaimanapun sekolah adalah bagian dari masyarakat luas

      3. Kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer, motivator, dan fasilitator. Oleh karena itu, pengangkatan kepala sekolah harus didasarkan atas kemampuan manajerial dan kepemimpinan dan bukan lagi didasarkan atas jenjang kepangkatan.

      4. Adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah. Dalam pengambilan keputusan, kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis. Konsumen yang harus dilayani kepala sekolah adalah murid dan orang tuanya, masyarakat dan para guru. Kepala sekolah jangan selalu menengok ke atas sehingga hanya menyenangkan pimpinannya namun mengorbankan masyarakat pendidikan yang utama. 

      5. Semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. 

      6. Adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. Guidelines itu jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Artinya, tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS, yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing.

      7. Sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawabannya setiap tahunnya. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Untuk itu, sekolah harus dijalankan secara transparan, demokratis, dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait.

      8. Penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. Oleh karena itu, usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa.

      9. Implementasi diawali dengan sosialsasi dari konsep MBS, identifikasi peran masing-masing pembangunan kelembagaan capacity building mengadakan pelatihan pelatihan terhadap peran barunya, implementasi pada proses pembelajaran, evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan.


B. Prospek Guru terhadap Manajemen Berbasis Sekolah

                Pemerintah Republik Indonesia telah melakukan berbagai kebijakan terhadap guru. Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen merupakan dasar kebijakan untuk memperkuat eksistensi tenaga kependidikan sebagai tenaga profesional, seperti profesi-profesi yang lainnya. Kualitas profesi tenaga guru selalu diupayakan, baik melalui ketentuan kualifikasi pendidikannya maupun kegiatan in-service training, dengan berbagai bentuknya seperti: pendidikan dan latihan (diklat), penataran dan pelibatan dalam berbagai seminar untuk meng-update wawasannya dalam kompetensi pedagogi dan akademik. 

                Pemerintah mulai menyadari betapa strategisnya peran tenaga guru dalam mengantarkan generasi muda untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan kompetitif sehingga mampu mewujudkan suatu kesejahteraan bersama. Sejarah peradaban dan kemajuan bangsa-bangsa di dunia membelajarkan pada kita bahwa bukan sumber daya alam (SDA) melimpah yang dominan mengantarkan bangsa tersebut menuju pada kemakmuran, tetapi ketangguhan daya saing dan keunggulan ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi (Ipteks) bangsa tersebutlah yang berperanan untuk meraup kesejahteraan. Bahkan SDM yang menguasai ipteks cenderung memanfaatkan teknologinya untuk menguasai SDA bangsa lain. 

                Dinamika perkembangan masyarakat melaju sangat pesat seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga menuntut semua pihak untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dalam di masyarakat. Dalam menerapkan otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, perlu identifkasi urusan-urusan yang ditangani pusat dan yang dilimpahkan ke daerah. Hal ini perlu dilakukan secara bertahap dan selektif dengan mempertimbangkan kepentingan sebagai berikut:

      1. Alokasi jatah guru yang diangkat di tiap daerah berdasarkan formasi secara nasional sesuai dengan anggaran yang tesedia. 

      2. Penggajian guru yang bersumber dari RAPBN meengacu pada sistem penggajian pegawai negeri disertai tunjangan profesionalnya.

      3. Mutasi guru antar propinsi.

      4. Pembuatan rambu-rambu (guide lines) yang berisi syarat-syarat minimal tentang kualifikasi minimal calon guru, sistem rekrutmen, sistem pembinaan mutu, sistem pengembangan karier, serta penempatan dan mutasi guru antar provinsi.

      5. Evaluasi dan monotoring terhadap pelaksanaan standar-standar nasional oleh daerah beserta sangsinya.

                Sedangkan urusan-urusan yang dilimpahkan ke daerah, dengan berpedoman kepada standar nasional yang disusun oleh pusat, adalah sebagai berikut:

      1. Rekrutmen dan seleksi calon guru yang akan diangkat sebagai PNS.

      2. Rekrutmen dan peningkatan calon guru untuk memenuhi kebutuhan khusus (guru kontrak, guru bantu, guru pengganti sementara) yang anggarannya menjadi beban daerah atau proyek-proyek khusus yang didanai oleh pusat.

      3. Penempatan atau mutasi guru dalam lingkup daerah yang bersangkutan.

      4. Penilaian kinerja guru dalam rangka kenaikan pangkat, promosi jabatannya, dan   pemberian tunjangan atas dasar prestasinya.

      5. Penetapan jumlah dan pemberian tunjangan daerah sesuai dengan kemampuan daerah yang bersangkutan (di luar gaji/tunjangan sebagai PNS).

      6. Pembinaan mutu guru melalui pelatihan, penataran serta wahana-wahana lainnya.

                Adapun ayat mengenai tentang prospek guru atau pendidik, yaitu Allah swt., berfirman dalam QS Ali-Imran/3: 102:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Terjemahan: 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”


C. Peran Siswa Terhadap Manajemen Berbasis Sekolah

                Siswa atau murid merupakan subjek utama dan konsumen utama prime beneficiary dari segala upaya yang dilaksanakan oleh penyelenggara satuan pendidikan bersama manajemen yang terlibat didalamnya. Dalam posisinya yang menjadi subjek tujuan pendidikan itu, maka keinginan dan harapan, motivasi, serta komitmen keterlibatan siswa menjadi penting. Salah satu cara untuk mengakomodasi kepentingan siswa mendengarkan suaranya.

                Siswa memegang peran yang dominan, dalam hal mana siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensi, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang imbul dalam dirinya tanpa paksaan. Hal ini terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan perubahan, mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan. Peran siswa dalam inovasi pendidikan adalah sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pada sesama temannya, petunjuk bahkan menjadi guru bagi yang lainnya.

                Peserta didik itu orang yang sedang mengalami dan menerima proses pendidikan. Dilihat dari segi kedudukannya, peserta didik itu makhluk yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya, yang memerlukan bimbingan dan pengarahan kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. Allah swt., berfirman dalam QS Al-Baqarah/2: 31:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Terjemahan:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar”.

                Ayat tersebut menegaskan bahwa peserta didik itu objek, sekaligus subjek pendidikan. Peserta didik yang dimaksud dalam ayat tersebut ada adalah malaikat dan Adam as. Kedua peserta didik ini terlibat dalam interaksi pembelajaran melalui pendekatan inquiry dan discovery. Malaikat, yang tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas sebagai pemberdaya bumi tidak memiliki pengetahuan yang berkembang sehingga pengetahuannya bersifat statis. Namun, Allah swt., memberikan hak kepada malaikat untuk dievaluasi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dan ternyata tidak dapat menunjukkan kreativitas dan inovasinya sebagai calon pemberdaya bumi yaitu khalifah.


D. Keterlibatan Orang Tua Siswa terhadap Manajemen Berbasis Sekolah

                Dampak MBS terhadap keterlibatan orang tua. Dalam teori, keterlibatan orang tua dan masyarakat seharusnya menciptakan tekanan akuntabilitas terhadap peningkatan kinerja profesional, efesiensi sekolah dan prestasi siswa. Dalam kenyataannya terjadi perdebatan dalam hal keterlibatan orang tua terhadap prestasi belajar siswa.

                Menurut Fullan dan Watson menyatakan bahwa terdapat bukti yang nyata keterlibatan orang tua dan masyarakat berpengaruh terhadap pembelajaran siswa, namun pada sekolah-sekolah yang belum maju pengaruhnya terbataas. Sementara itu, Gershberg menyatakan bahwa penerapan MBS di Nikaragua telah meningkatkan partisipasi orang tua. Demikian pula dengan banyak yang mengatakan bahwa di Chicago penerapan MBS juga memperkuat keterlibatan orang tua dengan sekolah dan persekolahan anak-anakanya.

                Orang tua sebagai pendidik dalam keluarga adalah juga sebagai pengasuh. Pemelihara bagi anak-anaknya. Fungsinya sebagai pengasuh dan pemelihara adalah bagian dari tugasnya sebagai pendidik. Allah swt., berfirman dalam QS at-Tahrim/2: 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Terjemahan:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluargamu dari api, yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu. Diatasnya malaikat yang kasar yang keras-keras yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan, dan mereka mengerjkan apa yang diperintahkan.”

                Berdasarkan pada ayat di atas, Allah swt., memberitahu kepada orang tua dan para pendidik, dalam memberikan pengajaran kepada anak (anak didik) harus di dasari dengan cara penu kasih sayang, dan bersifat kontinyu.  Orang tua adalah pengajar (guru) pertama bagi anak untuk mengenal dunia sekitar, dan memberi bekal tentang nilai-nilai agama, budaya, tradisi yang berguna bagi kehidupan anak di kemudian hari.


E. Keefektifan Manajemen Berbasis Sekolah

                Keefektifan MBS harus sejak awal diketahui dampaknya terhadap pencapaian tujuan pendidikan khususnya dalam realisasi program sekolah sehingga dapat diketahui kelemahan untuk diperbaiki dan kekuatan untuk dipertahankan. Untuk mengukur kualitas dari program yang sedang berjalan dilakukan proses evaluasi. Proses evaluasi yang melihat suatu proses berdasarkan teori sistem adalah model evaluasi dari Stufflebeam dan Guba  yaitu context, input, process and product (CIPP). Melalui evaluasi akan diketahui apa yang berjalan, apa yang tidak berjalan atau gagal, apa yang harus dirubah dan apa yang bisa dipertahankan.

                Kriteria keefektifan MBS dalam penelitian ini diukur dari tiga komponen, yakni: Pertama, input (meliputi visi, misi, tujuan, program, sumber daya, siswa, kurikulum, sikap kemandirian, keuangan, fokus pada pelanggan, harapan prestasi tinggi dan input manajemen). Kedua, proses (meliputi pengambilan keputusan, pengelolaan program, pengelolaan lembaga, belajar mengajar, kerjasama, partisipasi, akuntabilitas, kemandirian, evaluasi, monitoring dan keterbukaan). Ketiga, output (meliputi akademik dan non akademik).

                Keefektifan manajemen sekolah dapat dilihat dari input, proses dan ouput. Maksudnya yaitu dapat dilihat dari kualitas visi, misi, tujuan, program, ketepatan penyusunan, kepuasan, keluwesan dan adaptasi, semangat kerjasama, motivasi, ketercapaian tujuan, ketepatan waktu, serta ketepatan pendayagunaan sarana prasarana dan sumber belajar dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.



BAB III

HASIL PENELITIAN

APaparan Data

                Dari hasil wawancara kami menurut bapak Syahruddin selaku kepala madrasah. Strategi implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae menyatakan bahwa:

“Manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma'arif Bilae yaitu tidak lepas dari beberapa elemen dari unsur pimpinan di dalamnya, yang diantaranya terkait dengan stakeholder baik dari Kementerian Agama, pengawas maupun yayasan itu bagian dari Manajemen Berbasis Sekolah yang di koordinatori oleh selaku kepala madrasah tersebut. Selaku kepala madrasah bagaimana mengatur atau memanaj madrasah baik di bagian administrasi maupun pengaturan kinerja atau tugas masing-masing sekolah yang diatur itu, madrasah melakukan perencanaan terlebih dahulu sebelum melakukannya.”

                Berdasarkan pernyataan di atas tersebut, kelompok kami menyetujui akan pendapat dari bapak Syahruddin, bahwa dalam manajemen berbasis sekolah terkhusus mengenai strategi yang diterapkan adalah elemen dari unsur pimpinan yang terkait dengan stakeholder di Kementrian Agama yang di kordinir oleh kepala madrasah.

               Kemudian berkaitan dengan prospek guru terhadap manajemen berbasis sekolah, bapak Syahruddin mengungkapkan bahwa:

“Kinerja guru MA Al-Ma'arif Bilae, mereka sudah menjalankan tugasnya masing-masing bahkan guru-guru di MA Al-Ma'arif Bilae setiap 1 tahun mereka di supervisi  langsung oleh kepala madrasah. Supaya guru itu, mengajar sesuai dengan profesionalisme selaku guru. Maka masing-masing guru harus membuat perangkat pembelajaran sebelum melakukan proses belajar mengajar di madrasah. Selaku kepala madrasah untuk melihat hasil kinerja dari guru-guru tersebut, maka kepala madrasah melakukan atau memberikan  jadwal guru tersebut di supervisi. 

Pada saat di supervisi, terlebih dahulu kepala madrasah memeriksa perangkat pembelajaran guru, apakah mereka siap atau tidak di supervisi dalam melaksanakan tugasnya selaku guru di madrasah. Meskipun kondisi 1 tahun belakangan ini, kita dihadapi oleh wabah penyakit yang dikenal dengan Covid 19 atau Corona. Kegiatan supervisi yang dilakukan setiap tahun itu tidak lepas dilakukan oleh kepala madrasah. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah. Selain itu, untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam mengajar di sekolah. Pada saat di supervisi, guru ditekankan tetap mengajar, mengatur terhadap perangkat pembelajaran mereka buat.”

                Berdasarkan pernyataan di atas kelompok kami menyetujui dengan apa yang diungkapkan oleh bapak Syahruddin, bahwa kinerja guru telah menjalankan tugasnya secara efektif dan efisien. Lalu di setiap tahunya para guru dilihat dan ditinjau bagaimana aktivitas dan kreativitasnya dalam menjalankan tugas oleh kepala madrasah.

                Lalu terkait dengan peran siswa terhadap manajemen berbasis sekolah, bapak Syahruddin menyatakan bahwa:

“Peran siswa terhadap manajemen berbasis sekolah (MBS) di terapkan di MA Al-Ma’Arif Bilae siswa tetap mengikuti aturan yang berlaku di sekolah atau di madrasah. Jadi, dalam proses pembelajaran apakah guru melaksanakan secara tatap muka atau tidak. Baik luring ataupun daring, siswa tetap mengikuti prosedur yang disampaikan oleh guru terhadap siswa.”

                Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan di atas kelompok kami menyetujui dengan apa yang di sampaikan oleh bapak Syahruddin, bahwa selama proses pembelajaran daring berlangsung, semua siswa tetap menjalankan aktivitas belajar mereka sesuai dengan prosedur yang telah disampaikan oleh masing-masing guru

                Kemudian berkaitan dengan keterlibatan orang tua siswa terhadap manajemen berbasis sekolah, bapak Syahruddin mengungkapkan bahwa:

“Keterlibatan orang tua siswa diantaranya mereka membantu anak-anaknya untuk mengikuti pembelajaran, baik secara online maupun secara daring. Salah satunya adalah di masa pandemi ini siswa belajar secara daring. Maka dari itu, salah satu peran orang tua adalah memberikan fasilitas berupa kuota atau data. Disamping itu, karena guru tidak berhadapan langsung dengan siswa, maka orang tua berperan aktif  dalam rangka membentuk karakter siswa yang berada di rumah. Kalau guru agak susah membetuk karakter siswa, karena diakibatkan tidak tatap muka. Beda dengan tatap muka selaku guru mampu membentuk karakter siswa terutama dalam proses pembelajaran, atau memberikan contoh tauladan kepada siswa dan menanamkan nilai-nilai kepribadian akhlak kepada mereka. Namun, pada saat belajarnya secara daring hal itu kurang tersampaikan, maka peran orang tua siswa disini harus terlibat langsung mengatur dan  membimbing  akhlaknya kepada anak-anaknya. 

Peran orang tua siswa sejak mulai berdirinya madrasah ini,  bantuan dari masyarakat terkhusus Dusun Bilae, Desa Lappo Ase bagian pondasi kelasnya saja dalam rangka gotong royong. Tetapi tidak meminta bantuan berupa iuaran, tetapi melainkan yang dibutuhkan adalah tenaga mereka untuk menggali dan membangunkan gedung madrasah ini, itu hanya bagian pondasinya. Selebihnya itu, sejak mulai berdirinya tahun 2009 sampai saat  ini  terkhusus sampai menjelang sebelum pondok pesantren itu tidak dibebankan iuran kepada siswa. Meskipun waktu awal berdirinya ini, sekolah belum ada istilah namanya Bantuan Operasional Sekolah,  masing-masing sekolah rata-rata menetapkan iuran perbulan kepada siswanya. 

Namun, kami dari madrasah Al-Ma’arif Bilae tidak pernah melakukan seperti itu. Padahal itu masih dipersilahkan atau masih diizinkan untuk memungut iuran ke siswa, tetapi kami tidak lakukan. Bahkan sampai dibentuk pesantren ini satu atau dua tahun terakhir, jadi pesantren sampai saat itu tidak pernah dipungut biaya sepersenpun meskipun mereka mondok di pesantren ini. Baru ada pembayaran ketika ada di bentuk tahfidz al-Qur'an. Diakibatkan mereka dimasakkan ada pembina khususnya. Sehingga mereka harus  membayar, namun pada akhirnya nanti akan gratis.”

                Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan di atas kelompok kami menyetujui dengan apa yang disampaikan oleh bapak Syahruddin, bahwa di masa pandemi sekarang tentu peran orang tua akan lebih aktif untuk membimbing dan membina anaknya dalam belajar nilai pendidikan maupun nilai keagamaan. Selain itu, peran orang tua juga terlihat dari biaya yang harus digunakan oleh anaknya berupa kuota atau data. Adapun peran orang tua dan  masyarakat, mengenai tentang pembangunan madrasah, banyak berupa bantuan dari tenaga secara gotong royong

                Kemudian mengenai tentang keefektifan manajemen berbasis sekolah, bapak Syahruddin mengungkapkan bahwa:

“Keefektifan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), namanya madrasah pasti ada manajemennya, pasti ada pengelolaannya mulai dari pihak pimpinan, wakilnya, wakamat kurikulumnya, humasnya, sarana dan prasarana, ada bagian kurikulum kemudian dibantu oleh wali kelasnya dan guru-gurunya ada juga tenaga tata usaha yang mengatur tentang administrasi sekolah, mereka diatur berdasarkan tugas dan fungsinya masing-masing bahkan kita pampang di dalam kantor tugas dan fungsinya masing-masing sebagai bentuk manajemen bahwa MA Al-Ma’aif Bilae itu mereka berjalan berdasarkan tugas dan fungsinya masing-masing.”

                Berdasarkan pernyataan di atas, kelompok kami menyetujui dengan apa yang di ungkapkan oleh bapak Syahruddin, bahwa keefektifan dalam lembaga pendidikan terkhususnya kepada manajemen berbasis sekolah, tentu ada keterlibatan dari segenap warga sekolah secara aktif guna menciptakan sebuah kinerja yang kondusif untuk lembaga pendidikan itu kedepannya. Lalu perlu juga adanya kerjasama antara pihak warga sekolah dengan baik.


B. Analisis Data

    1. Stengths (Kekuatan) 

“Adapun kekuatan dari MA Al-Ma’arif Bilae, yaitu bisa menjadi nilai tambah atau nilai keunggulan dari madrasah ini, ada beberapa diantaranya di bidang olahraga, karena rata-rata yang mewakili Bone terutama di bidang takraw di madrasah kami. Kemudian, kekuatan berikutnya adalah karena sekarang dibentuk jadi pondok pesantren. Keunggulan berikutnya adalah kita punya kelas tahfidz, yang target hafalannya adalah selesai di MA selesai juga hafalannya 30 Juz. Kami juga memiliki fasilitas pengelasan, alat kelas, dan ada gurunya mengajarkan. Itu merupakan sebuah kekuatan atau nilai lebih dari madrasah ini dibandingkan dengan madrasah-madrasah lainnya di Kabupaten Bone. Kemudian, ini merupakan daya tarik terhadap calon peserta didik baru ketimbang sekolah-sekolah yang lainnya. Kita Memiliki sarana dan prasarana olahraga yang hampir lengkap meskipun tidak terlalu bagus. Ada lapangan Voli, takraw, futsal, tennis meja, alat fitnes, meskipun sebagian ada yang satu rusak kalau tidak salah. Rata-rata yang kerja itu alat fitnes-nya adalah gurunya dan dibantu dengan siswanya.”

                Dari pernyataan di atas yang telah disampaikan oleh bapak Syahruddin mengenai stengths atau kekuatan, ada beberapa poin yang dapat di jadikan acuan diantaranya sebagai berikut:

a. Olahraga yang unggul, terbukti dengan seringnya mewakili Kabupaten Bone dalam ajang lomba sepak takraw.

b. Telah terbentuk menjadi pondok pesantren.

c. Memilki kelas tahfidz.


    2. Weaknesses (Kelemahan)

“Kelemahannya adalah rata-rata yang masuk di MA Al-Ma'arif Bilae itu berasal dari sekolah umum ketimbang sekolah agama. Artinya kebanyakan siswa-siswanya yang masuk itu dari alumni SMP bukan Madrasah Tsanawiyah. Di mana letak kendalanya, kebanyakan yang masuk kemarin dan sampai hari ini, mereka terkendala terhadap membaca tulis al-Qur’an. Maka dari itu, Guru harus berusaha harus mencari cara supaya bagaimana caranya siswanya bisa menulis dan membaca al-Qur’an dengan baik dan Benar. Kendala berikutnya adalah pada saat belajar mata pelajaran bahasa Arab, jangankan disuruh ikuti kurikulum bahasa Arab yang kurikulumnya terlalu tinggi. Sementara siswa yang mau menerima mata pelajaran tersebut tidak  tahu menulis dan tidak tahu membaca disitu letak kelemahannya. Dari segi bangunannya, kelemahannya disini masih kurang lengkap WC nya dibandingkan jumlah siswanya. Selain itu, pagarnya belum mengelilingi lingkungan sekolah juga.”

                Dari pernyataan di atas yang telah disampaikan oleh bapak Syahruddin mengenai weaknesses atau kelemahan, ada beberapa poin yang dapat di jadikan acuan diantaranya sebagai berikut:

a. Kebanyakan yang mendaftar bukan dari MTSN namun dari sekolah SMP.

b. Seringnya terkendala dalam membaca dan menulis al-Qur'an.

c. Sulit menerima mata pelajaran dari mata pelajaran bahasa Arab.


    3. Oppurtunities (Peluang)

“Kami dari pihak madrasah melakukan membentuk kewirausahaan sekolah yang mampu menambah kas madrasah yang bisa dikelola oleh madrasah. Demi Membiayai kegiatan-kegiatan atau pembangunan di madrasah, itu bentuk peluang bisa dimanfaatkan karena pengelasan itu bisa dimasukkan kewirausahaan bahkan lapangan ini bisa dijadikan kewirausahaan madrasah bisa dipersewakan sebenarnya. Meskipun hal itu belum dilakukan oleh madrasah. Tetapi itu menjadi peluang, kalau Madrasah kami ingin melakukan seperti itu.”

                Dari pernyataan di atas yang telah disampaikan oleh bapak Syahruddin mengenai oppurtunities atau peluang, ada beberapa poin yang dapat di jadikan acuan diantaranya sebagai berikut:

a. Adanya pembentukan kewirausahaan sekolah untuk menambah kas madrasah.

b. Kewirausahaan lapangan yang rencananya akan dipersewakan.


    4. Threats (Ancaman)

“Ancaman dari MA Al-Ma’arif Bilae yaitu diakibatkan pagarnya belum ada, hadir pemuda dari manapun arahnya bisa masuk ke MA ini. Diakibatkan belum ada Security-nya karena pagarnya belum ada.”

                Dari pernyataan di atas yang telah disampaikan oleh Bapak Syahruddin mengenai threats atau ancaman, ada beberapa poin yang dapat di jadikan acuan diantaranya sebagai berikut:

a. Warga sekolah yang belum lengkap.

b. Keamanan sekolah yang belum objektif.



BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

                Berdasarkan hasil penelitian di MA Al-Ma’arif Bilae dapat disimpulkan bahwa strategi yang diterapkan sudah baik karena diterapkannya elemen dari unsur pimpinan yang terkait dengan stakeholder di Kementerian Agama yang telah dikordinir oleh kepala madrasah. Selanjutnya mengenai tentang prospek guru, kinerja guru telah menjalankan tugasnya secara efektif dan efisien serta adanya peninjauan setiap tahun mengenai aktivitas dan kreativitas seorang guru. Lalu mengenai tentang peran siswa, bahwa selama proses pembelajaran daring berlangsung semua siswa tetap menjalankan aktivitas belajar sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Kemudian keterlibatan orang tua aktif untuk membimbing atau membina anaknya dalam belajar nilai pendidikan maupun nilai keagamaan. Selain itu, terlihat pula dari biaya yang digunakan anaknya berupa kuota atau data. Serta terkait mengenai keektifan adanya keterlibatan dari segenap warga sekolah secara aktif guna menciptakan sebuah kinerja yang kondusif untuk lembaga pendidikan itu kedepannya.


B. Saran

                Diharapkan kepada Kepala Madrasah untuk meningkatkan kerjasama antara warga sekolah yang lainya, diantaranya guru, staf, siswa, orang tua siswa dan masyarakat, guna untuk meningkatkan manajemen berbasis sekolah dengan kerja sama yang kondusif antara warga sekolah, kemudian mampu menciptakan pengelolaan lembaga pendidikan secara mandiri yang efektif dan efisien dan juga dapat melibatkan peran warga sekolah untuk meningkatkan pendidikan Manajemen Berbasis Sekolah di masa mendatang.



DAFTAR RUJUKAN

Afiqi, Muhammad Anis. “Keefektifan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Muhammadiyah Kadisoka Kalasan Sleman”. Kependidikan dan Keagamaan. Vol. 2, No. 2, Desember 2018.

Al-Burhan, Mishaf. Al-Qur’an dan terjemahan. Bandung: Fitroh Robbanoi, 2019.

Ananda, Rusydi dan Amiruddi. Inovasi Pendidikan: Melejitkan Potensi Teknologi dan Inovasi Pendidikan. Medan: Widya Puspita, 2017.

Fakhrurrazi. “Peserta Didik dalam Wawasan Al-Qur’an”. At-Ta'dib: Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam, 2020.

Fathurrohman, Muhammad. “Manajemen Mutu Pendidikan Islam Dalam Perspektif al-Qur’an dan Hadits”. Al-Wijan: Journal of Islamic Education Studies. Vol. 3, No. 2, 2018.

Firdianti, Arinda. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah: dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa. Cet. I; Yogyakarta: Gre Publishing, 2018.

Ginda. “Profil Orang Tua Sebagai Pendidik dalam Perspektif al-Qur’an”. Sosial Budaya. Vol. 8, No. 2. Juli-Desember 2011.

Hastomo, Agung. “Evaluasi Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di Sekolah Dasar Menggunakan Model Context, Input, Proses Dan Product (Cipp)”. Dalam https://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Agung%20Hastomo,%20S.Pd.,%20M.Pd/ArtikelMBS2010.pdf. 22 Juni 2021.

Izza. “Implementasi MBS”. Dalam http://izzaucon.blogspot.com/2014/06/implementasi-manajemen-berbasis-sekolah_4.html. 20 Juni 2021.

Izza, Diah Kumala. “Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah”. Dalam http://diahkumalaizzaa.blogspot.com/2014/06/implementasi-mbs.html?m=1. 20 Juni 2021.

Mesiono. Efektivitas  Manajemen Berbasis Madrasah/Sekolah Perspektif Ability and Power Leadership. Cet. I; Yogyakarta: Perkumpulan Program Studi Managemen Pendidikan Islam (PPMPI), 2018.

Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Srategi, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.

Nurkolis. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Grasindo, 2005.

Slameto. Strategi Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dengan Profesional. Cet. I; Qiara Media Partner, 2020.



LAMPIRAN

Instrumen Wawancara:

1. Bagaimana menurut Bapak strategi manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae?

2. Bagaimana menurut Bapak prospek guru terhadap manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae?

3. Bagaimana menurut Bapak peran siswa terhadap manajemen berbasis sekolah di Ma Al-Ma’arif Bilae ?

4. Bagaimana menurut Bapak keterlibatan orang tua siswa terhadap manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae?

5. Bagaimana menurut Bapak keefektifan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di MA Al-Ma’arif Bilae?

SWOT:

1. Bagaimana menurut Bapak peran warga sekolah terhadap kemajuan MA Al-Ma'arif Bilae?

2. Menurut Bapak, apa sajakah yang menjadi faktor yang dapat menghambat kemajuan dari MA Al-Ma'arif Bilae?

3. Bagaimana menurut Bapak keaktifan warga sekolah untuk menunjang kemajuan pada MA Al-Ma'arif Bilae?

4. Menurut Bapak, apa sajakah yang dapat menjadi pemicu melemahnya