Memoar
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam
Di suatu malam selepas sholat magrib, Ayah mengajakku ke kota untuk pergi bersilaturahmi ke rumah sahabatnya, beliau bernama Puang Asdar, dan beliau tinggal di jalan pramuka. Ketika Ayah telah bersiap-siap, kami berdua akhirnya berpamitan dengan Ibu, lalu beranjak menuju ke rumah Puang Asdar.
Kali ini bukan Ayah yang memboncengku, namun Aku yang memboncengnya, soalnya mata Ayah sudah tak mampu melihat jelas dikegelapan malam. Aku sangat menikmati perjalananku, walaupun perjalanan yang aku tempuh cukup jauh, sekitar 30 kiloan.
Setelah memasuki pertigaan Lappo Ase Ayah merasakan ada yang aneh dari ban motornya, Ayah lalu menyuruhku untuk berhenti sejenak untuk melihat kondisi ban motor, setelah Aku melihat ternyata ban motornya kempes. Namun Alhamdulillah di pertigaan itu ada sebuah warung, namun memilki compresor pengisi angin. Kemudian Ayah mendatangi warung itu dan meminta untuk memompa ban motornya.
Setelah selesai Aku dan Ayah kembali beranjak dengan menggas motor perlahan, motor Jupiter hitam pekat selalu Ayah gunakan dimanapun dia bepergian, motor itu adalah motor kesayangan Ayah, maka menjaga kestabilan motor itu sangat Ayah perhatikan.
Tidak lama dari perjalanan kami, Aku terpanah dengan sebuah tugu yang Aku lewati, tugu itu membentang di atas jalan, khas dari bentuknya yaitu songkok recca yang mencerminkan kota Bone dengan karya peci khasnya itu. Setiap Aku bepergian dan melewati jalur batas kota, Aku selalu memperhatikan tugu itu. "Selamat datang di kota beradat Bone, bumi Arung Palakka," Aku selalu membacanya dalam hati ketika melewati tugu itu.
Tidak lama kemudian akhirnya Aku dan Ayah sampai di tengah kota, lampu-lampu jalan nampak menghiasi pinggiran jalan, Aku dan Ayah telah sampai di pertigaan Pindra, dan menunggu lampu merah, lalu Aku menoleh ke atas melihat tugu patung yang besar, sosok raja Bone yang ke 32 beliau bernama Andi Mappanyukki.
Setelah lampu lalu lintas berganti ke hijau, Aku kembali melanjutkan perjalanan menuju jalan Mt. Haryono. Namun tidak lama kemudian Aku dan Ayah diberhentikan lagi oleh lampu merah di perempat jalan, namun Aku tidak menyia-nyiakan pandangan, pandangan ku kini tertuju kepada masjid terbesar di Bone, yaitu masjid Al Markaz atau sering disebut masjid agung, warnanya yang bercorak hijau dan bentuknya yang begitu besar serta satu menaranya yang menjulang tinggi, namun sayang seribu sayang, lumut-lumut sudah nampak menempel di penggiran masjid besar itu.
Setelah lampu lalu lintas berganti ke hijau, Aku kemudian melanjutkan perjalanan kembali, Aku lalu melewati jalan Ahmad Yani, kebetulan malam itu adalah malam minggu sehingga nampak begitu banyak pengunjung di tengah-tengah kota. Aku pun memperhatikan mereka sambil mengendarai motor perlahan.
Kemudian Aku juga menatap Ayah dari balik kaca spion, nampak Ayah juga sangat menikmati perjalan dimalam itu, kelihatan ketika Ayah juga sangat antusias memandang orang-orang yang dia lalui.
Kami kemudian kembali disuguhkan dengan pemandangan yang indah dari kawasan lapangan merdeka dan patung yang berukuran besar. Patung yang berukuran besar itu adalah sosok penguasa dari suku Bugis Bone, beliau bernama Arung Palakka yang menjadi raja Bone ke 15 pada masanya. Patungnya yang berdiri tegap, rambutnya yang panjang, serta tatapannya yang tajam sambil memegang sebuah tombak, menambah keeksotisannya ketika mata memandang.
Setelah Aku dan Ayah melewati kawasan lapangan merdeka, tanpa terasa Aku dan Ayah telah sampai di kawasan jalan pramuka dimana rumah tujuan kami tidak lama lagi akan kami singgahi. Aku akhirnya menyalakan wiser motor ke arah kanan, menuju rumah besar yang terbentang di tengah sawah. Sesampainya Aku dan Ayah di rumah itu, kedatangan Ayah disambut hangat oleh Puang Ece istri dari Puang Asdar.
"Masuk ki, Puang Imang," ucap Puang Ece.
"Iye, Puang," balas, Ayahku.
Ayahku akrab dipanggil Puang Imang oleh Puang Asdar dan istrinya, karena kerap Ayah sering menjadi imam di masjid dekat rumah.
Aku dan Ayah akhirnya masuk ke dalam rumah dan dipersilahkan duduk di sofa oleh Puang Ece. Tidak lama kemudian Puang Asdar keluar dari balik dinding putih di dekat ruang dapur, yang barusan saja dari kamar mandi, ketika Puang Asdar melihat kehadiran Ayah, Puang Asdar langsung merangkul tangan Ayah dan memeluknya.
"Akhirnya datang ki ini malam, Puang Imang," kata Puang Asdar dengan wajah yang berbinar senyum.
"Iye Puang, kalau kita yang mengajak, insyaallah hadir ka, Puang," ujar Ayahku dengan nada yang pelan.
Ayah kemudian bercerita asik sekali dengan Puang Asdar dan istrinya, canda tawa menghiasi pembicaraan mereka, Aku yang hanya anak remaja dan tidak terlalu paham akan bahasa orang tua, Aku hanya bisa menyimak apa yang mereka bicarakan, mereka tertawa Aku pun ikut tersenyum.
Tidak lama kemudian Puang Ece masuk ke dalam dan entah apa yang ingin dia ambil. Namun tidak berselang lama, Puang Ece akhirnya kembali namun bedanya dia membawa tiga gelas minuman yang kelihatannya enak sekali. Puang Ece kemudian menaruh minuman itu di meja dan mempersilahkan kami untuk menikmatinya.
"Minum Ki dulu, Puang Imang," ucap Puang Ece.
"Kita juga, ndi silahkan diminum," tambah Puang Ece kembali.
"Iye, Puang," balas ku dan Ayah hampir bersamaan.
Ketika disuruh mencicipi Aku memperhatikan minuman itu yang berwarna coklat dan sedikit warna keputihan, aroma jahe juga sangat menusuk hidung, Aku memandang Ayah yang minum lebih dulu, Aku melihat Ayah sangat menikmati hirupan pertamanya dari minuman itu, namun berbeda dengan diriku yang penasaran akan minuman itu.
"Wah, enaknya ini, Puang. Minum ki sarabba malam-malam begini," ujar Ayahku.
"Enak memang itu, Puang Imang, apalagi hujan-hujan," ujar Puang Asdar kembali.
Dengan rasa penasaran Aku akhirnya mencicipi seteguk minuman panas itu, aroma jahe dan sereh telah bercampur aduk lebih dulu menyeruak masuk ke hidung, seteguk minuman sarabba akhirnya masuk ke tenggorokan ku. Rasa manis dari gula merah, lalu rasa gurih dari telur dan santan, serta aroma penambah cita rasa dari jahe dan sereh, kemudian ada sedikit rasa pedas dari bubuk merica, membuat minuman itu kaya akan rasa rempah-rempah lokal Indonesia, Aku sangat menikmati minuman sarabba yang dihidangkan oleh Puang Ece malam itu. Sampai-sampai tegukan demi tegukan masuk ke tenggorokanku dengan nikmatnya.


0 Comments