Memoar
Nama: Surianto Cahir
NIM: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam
Hari itu adalah hari dimana Aku dan Ayah akan menemani Sepupuku berkunjung ke Pare-Pare. Setelah Aku dan Ayah melaksanakan sholat subuh, Ayah menyuruhku untuk segera bersiap-siap karena tidak lama lagi Sepupuku akan berangkat. Namun sebelum berangkat Aku dan Ayah menyempatkan dulu untuk meminum kopi, agar tubuh kami bisa terasa hangat ketika di perjalanan nanti.
Sembari menunggu Sepupuku yang sedang mandi, Aku dan Ayah menikmati hirupan kopi dan menyantap kacang polong yang ada di depanku. Setelah beberapa menit Sepupuku pun keluar sambil membawa tas kecilnya.
"Ayo kita pergi," ucapnya tersenyum dengan langkah yang cepat.
Segera Aku langsung menutup toples dan menghabiskan kopiku dan hanya tersisa ampasnya saja. Aku dan Ayah akhirnya bergegas keluar rumah, dan nampak Sepupuku tengah menggeser beberapa motor untuk mobilnya keluar.
Kami bertiga pun akhirnya berangkat menuju ke Pare-Pare, Ayah ku duduk di depan dengan Sepupuku, sementara aku duduk di belakang. Suasana masih sunyi dan hening, dingin masih sangat terasa ketika menerpa wajahku di balik kaca mobil. Namun Aku tak merasakan keheningan itu, karena ada handset yang melekat di telingaku, perjalananku sungguh nikmat ketika diiringi lagu yang menggeber di telingaku.
Ketika kami sampai di daerah Pompanua Sepupuku menyempatkan sejenak singgah di Alfamart untuk membeli minuman. Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan, ketika sampai di Kab Wajo. Aku banyak melihat perbaikan jalan, sungai nampak mengalir dengan tenang, namun di daerah itu memang sering terjadi longsor. Nampak ada rumah yang roboh karena telah terseret arus. Sepupuku nampak memberikan sedikit sumbangan kepada setiap pos-pos penjaga untuk pembangunan jalan.
Kami pun meneruskan perjalanan dan akhirnya sampai di Kab Sidrap, diperjalanan kami sempat terhimpit macet karena hari itu ramai sekali pengunjung di pasar Tandru Tedong, para pedagang kaki lima pun saling berjejeran menawarkan dagangannya. Pasar Tandru Tedong cukup besar dan memiliki bentuk seperti tanduk banteng di atasnya, seperti namanya tandru tedong namun diartikan dalam bahasa daerah.
Setelah perjalanan kami sudah hampir empat jam dan hari sudah mulai panas, kami pun akhirnya sampai di perbatasan Sidrap dan Pare-Pare. Sungguh pemandangan yang sangat indah, mataku di manjakan oleh birunya laut pelabuhan Pare-Pare dari atas bukit. Tiba-tiba Ayahku pun menyapaku dan mengingatkan ku dengan masa laluku.
"Anto, kamu tidak ingat waktu kita mau ke Kalimantan, pergi ke pelabuhan?" tanya Ayahku sambil menunjuk ke arah pelabuhan.
"Iyah, ku ingat saja waktu kecilku," Aku hanya mengucap singkat dan tersenyum.
Sesampainya kami di tempat tujuan, Kami pun turun dari mobil dan menuju ke toko pakaian, Sepupuku tidak bisa berlama-lama, soalnya setelah pulang dia harus ke bank. Sepupuku pun mengambil baju kemeja, begitu juga dengan Ayahku, dan akupun demikian.
Setelah semuanya selesai, akhirnya kami beranjak pulang, hari yang mulai masuk tengah hari, dan perut sudah mulai keroncongan, Sepupuku pun mengajak Aku dan Ayah singgah di warung makan.
"Ohya, singgah Ki dulu nanti makan deh," tanya Sepupuku kepada Ayahku.
"Iyah, bisa juga," jawab Ayahku.
Tidak lama kemudian akhirnya kami kembali tiba di Sengkang Kab Wajo, Sepupuku yang dari tadi kelaparan, akhirnya menyinggahkan kami di sebuah tempat makan kesukaannya, nampak tugu pesawat jet yang besar di kawasan tempat makan itu, sesuai dengan namanya Jetpur.
Kami pun singgah di tempat makan itu, nampak banyak sekali pengunjung yang berlalu-lalang, sebelum masuk kami menyempatkan sejenak untuk mencuci tangan, setelah itu Ayah masuk ke kamar mandi, Sepupuku tengah memesan makanan, sementara Aku asik memandangi kolam ikan yang ada disana.
Kami pun menunggu beberapa menit, karena memang pengunjung yang ingin dilayani banyak sekali, sembari menunggu, Aku, Ayah, Sepupuku asik memandangi pelita yang ada di gelas di depan kami. Akhirnya makanan kami sudah tiba, Aku dan Ayah sedikit terkejut melihat Ikan goreng Ketampang besar yang sudah dibumbui sambal tomat, dan olahan siput laut rica-rica yang sangat menggugah selera.
Aku sangat menikmati santapan hari itu, daging ikan ketampang sangat empuk yang berbalut dengan gurihnya bumbu tumis yang meresap ke dalam ikan. dan rasa asam manis dari olahan siput, sungguh sangat gurih, serta di tambah dengan minuman es teh, yang sangat nikmat ketika masuk ke dalam tenggorokan.




0 Comments