Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam
Satu jam telah berlalu, mahasiswa nampak antusias sekali dalam menjalani proses perkuliahan, Pak Edi yang merupakan dosen dari fakultas tarbiyah begitu semangat dalam memberikan materi kepada para mahasiswanya. Senyum dari Pak Edi selalu tersirat kepada para mahasiswanya. Pak Edi juga tidak pernah melupakan candaan dan gombalan pada saat dirinya mengajar, Pak Edi sendiri merupakan dosen muda yang mengajarkan mata kuliah manajemen. Para mahasiswi sangat menanti waktu belajar bersama Pak Edi, selain wajahnya yang tampan rupawan, ia pun mampu membuat para mahasiswanya bersemangat dalam menjalani perkuliahan di kelas.
Pak Edi pun tengah memaparkan sebuah materi dengan buku yang terbuka di tangan sebelah kanannya dan sebuah spidol di tangan kirinya.
"Indonesia adalah negara yang kaya akan-". ucapannya terpotong oleh salah satu mahasiswanya.
"Indonesia memang kaya, Pak ... kaya akan kemiskinan." ucap mahasiswa di sudut ruangan, yang santai dengan penuh keyakinan.
Seluruh mahasiswa yang ada dikelas tiba-tiba terdiam seribu bahasa, ketika melihat Zulkarnain memotong pembicaraan dari Pak Edi dengan santainya. Suasana pun hening. Pak Edi sejenak ikut terdiam, dan menganggap apa yang dikatakan oleh Zulkarnain itu benar. Namun sebagai dosen yang ramah Pak Edi hanya tersenyum dan menanggapi pernyataan dari mahasiswanya dengan baik.
Tiga jam berlalu akhirnya perkuliahan pun usai, semua mahasiswa di ruangan J103 berpulangan, terkecuali Zulkarnain yang tetap duduk dan menunggu seluruh teman-temannya keluar dari ruangan. Ada rasa bersalah dari hati Zulkarnain karena telah memotong pembicaraan dari Pak Edi tadi, ia memperhatikan Pak Edi membereskan barang-barangnya getir.
Setelah semua teman-temannya pulang, Zulkarnain dengan sigap langsung membantu Pak Edi membereskan barang-barangnya. Pak Edi sedikit terperanjat tiba-tiba Zulkarnain langsung membantunya memasukkan LCD di tasnya dan membantu mengangkatnya keluar. Pak Edi merasa senang melihat sikap Zulkarnain yang selalunya semangat dalam menjalani hari-harinya.
Mereka berdua akhirnya keluar dari ruangan J103, dan berjalan menuju mobil Pak Edi. Di perjalanan Zulkarnain mengungkapkan permohonan maafnya kepada Pak Edi.
"Saya minta maaf, Pak. Atas kelancangan saya tadi telah memotong pembicaraan, Bapak," ucap Zulkarnain pelan dan menunduk.
"Iyah, Bapak ngerti ko, apa yang kamu rasakan, terhadap Indonesia kita," ucap Pak Edi menatap tajam ke depan.
Mendengar ucapan itu Zulkarnain kembali bertanya dengan rasa keheranannya.
"Maksudnya, Bapak?"
"Iyah ... apa yang kamu katakan tadi di kelas itu betul sekali, Indonesia kaya akan kemiskinan, dan memang betul, itu tidak bisa kita pungkiri lagi, dan kita nggak bisa ngelakuin apa-apa, kita ini kecil bagaikan cicak yang setiap saat bisa saja, diterkam oleh seekor buaya besar ketika kita macam-macam," ujar Pak Edi getir namun tegas.
Zulkarnain pun hanya bisa terdiam dengan apa yang diucapkan oleh Pak Edi. Dirinya kemudian membayangkan begitu banyak fenomena korupsi yang begitu merajalela di Indonesia, kemiskinan yang begitu nampak nyata, dan anak-anak yang luntang lantang. "Korupsi ... kenapa kamu harus hadir membutakan mereka yang duduk di sana, sementara menyakiti kami yang ada di sini," ucap dalam hatinya melunglai.
"Kamu, anggota biru kuning ya?" tanya Pak Edi membuyarkan hayalan Zulkarnain.
"Kok, Bapak tau?"
"Hmm ... itu baju kamu," ucap Pak Edi melirik lambang PMII yang ada di baju kaos Zulkarnain.
"O-oh iya maaf, Pak," ucap Zulkarnain yang memaksakan senyumnya.
"Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia ... pertanyaan, Bapak ... apa yang sudah kamu gerakkan pada dirimu untuk PMII dan Indonesia?"
Pertanyaan yang membuat Zulkarnain tak mampu berkata apa-apa. ia lalu berfikir dengan dirinya sendiri dan organisasi yang digelutinya, lalu dia memandang lambang PMII di bajunya dan terbelalak menatap kedua belah telapak tanganya dengan gemetar.
"Apa yang telah kuperbuat untuk PMII?"
"Apa yang telah kuperbuat untuk Indonesia?"
Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba hadir dalam hatinya yang diiringi debar dalam jantungnya.
"Sebenarnya saya jarang aktif di PMII, Pak," ucapnya merasa malu.
"Aktif atau tidaknya kamu di PMII bukan berarti kamu itu bukan keluarga pergerakan ... yang penting kamu jangan pernah sesekali untuk berniatan murtad dari naunganmu sendiri ... ketika naunganmu itu bocor tamballah, dan ketika naunganmu itu patah, sambunglah," ujar Pak Edi dengan memegang pundak Zulkarnain.
"Jadi apa yang harus saya perbuat untuk PMII dan Indonesia, Pak?" tanya Zulkarnain getir.
"Kembangkan potensimu, kembangkan keahlianmu ... sebab potensi dan keahlian itu tidak lahir bersama dengan kita hadir di muka bumi ini, namun semua itu hadir karena adanya usaha untuk mencari tahu dan mengembangkan apa yang ada pada diri kita ... gerakkan semangatmu dengan melibatkan PMII, dan niatkan dalam hatimu untuk memajukan NKRI ... sebab aset termahal adalah diri kita sendiri," ujar pak Edi terbelalak menatap awan yang membiru. Dengan sedikit dahi mengkerut
Zulkarnain tak mampu harus berkata apa, tak ada hal yang bisa ia lakukan kecuali hanya terdiam dan menyimak apa yang disampaikan oleh Pak Edi. Dirinya hanya bisa termenung dan menunduk memandang kerikil yang berdebu di hamparan jalan.


0 Comments