Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam

           Di sebuah desa bernama Kebun Sayur tinggallah dua keluarga yang berbeda, yang satu dari kalangan darah biru, sementara yang satu dari keluarga yang pas-pasan. Pak Herman yang merupakan juragan tembakau di desa Kebun Sayur menyandang gelar sebagai keluarga yang kaya di desa itu, berbeda dengan keluarga Pak Santoso yang hanya menyandang gelar sebagai petani tembakau dari kebun Pak Herman sendiri.
           Kedua keluarga ini memiliki perbedaan yang sangat jauh, baik dari segi perilaku dan akhlaq, keluarga Pak Herman sendiri banyak menghabiskan waktu dengan hura-hura, berbeda dari keluarga Pak Santoso yang keseharian mereka banyak dihabiskan dengan waktu ibadah dan bekerja.
           Pak Herman memiliki satu anak laki-laki yang bernama Miko. Miko terlahir sebagai anak yang manja. Miko sangat dicintai oleh ayahnya, sampai-sampai apa yang diinginkan Miko selalu dituruti. Namun nasib tidak seindah apa yang diharapkan, ketika menginjak usia 6 tahun, Miko ditinggal oleh Sang ibu, Miko sangat bersedih begitu pula dengan Pak Herman.
           Semenjak istri Pak Herman meninggal, Pak Herman mengalami hari-hari yang sulit, Pak Herman juga harus mengurus perusahaan dan karyawannya, mana lagi ingin mengurus Miko, sampai-sampai Pak Herman kewalahan.
           Sampai pada akhirnya, Pak Herman menyewa asisten rumah tangga untuk bisa mengurus urusan rumah dan menjaga Miko pada saat Pak Herman pergi bekerja. Namun apa yang terjadi, Pembantu Pak Herman juga tidak sanggup untuk mengurus Miko yang sangat tidak mau diatur, Pak Herman mulai frustasi dan bingung dengan apa yang ingin ia lakukan.
           "Apa yang terjadi padaku," gumam Pak Herman merintih.
           Pak Santoso yang aktif bekerja di kebun Pak Herman, selalu memperhatikan gerak-gerik Pak Herman yang tidak seperti biasanya. "Kok akhir-akhir ini Pak Herman tidak seperti biasanya ya," ucap Pak Santoso dalam hati merasa bingung.


###


           Satu minggu kemudian Pak Santoso tidak mendapati Pak Herman di sekitar kebun, dengan rasa penasaran Pak Santoso akhirnya bertanya kepada pekerja yang lain.
           "Kok, Pak Herman tidak pernah datang ke kebun, ya?" tanya Pak Santoso.
           "Maaf, saya juga kurang tahu soal itu," jawab pekerja itu.
           Pak Santoso semakin bingung dengan apa yang terjadi, tanpa berfikir panjang akhirnya Pak Santoso berjalan tergopoh-gopoh mendatangi Pak Herman di rumahnya. Sesampainya Pak Santoso di rumah Pak Herman, Pak Santoso tidak mendapati Pak Herman, Pak Santoso hanya mendapati Miko yang duduk santai sambil bermain game.
           "Miko dimana ayah, Nak?" tanya Pak Santoso lirih.
           "Ayah lagi di rumah sakit," jawab Miko ketus.
           "Ayah sakit apa, Nak?" tanya Pak Santoso dengan wajah yang tegang.
           "Cari tau aja sendiri," jawab Miko ketus fokus pada handphonnya.
           "Lalu, kenapa Miko enggak temenin ayah di rumah sakit?" tanya Pak Santoso lirih.
           "Malas!" jawab Miko membentak Pak Santoso.
           Mendengar ucapan Miko Pak Santoso hanya mengelus dadanya sembari mengucap istighfar. Pak Santoso sangat khawatir dengan keadaan Pak Herman, ia pun berniat akan menjenguk Pak Herman ke rumah sakit. Sebelum menjenguk Pak Herman di kota, Pak Santoso pulang terlebih dahulu untuk meminta izin kepada istrinya.
           "Assalamualaikum, Bu," salam yang tergesa-gesa dari Pak Santoso.
           "Waalaikumussalam," balas istri Pak Santoso terperanjat.
           "Bapak mau kemana sampai tergesah-gesah begitu?" tanya istrinya.
           "Bapak mau ke kota untuk menjenguk Pak Herman yang lagi sakit," jawab Pak Santoso, sambil mengumpulkan pakaiannya.
           "Kok bawa baju sama tas, Pak?" tanya istrinya khawatir.
           "Yaa, mungkin Bapak agak lama nanti di kota, sekalian tunggu Pak Herman sembuh," jawab Pak Santoso.
           "loh, Miko sama keluarganya mana?" tanya istrinya dengan wajah yang cemberut.
           "Yaa begitulah Bu, mungkin mereka ada kesibukan yang tidak bisa untuk ditinggalkan, maklumlah Bu, mereka kan semuanya orang-orang karir," jawab Pak Santoso tersenyum.
           "Sibuk sih sibuk Pak, tapikan masa enggak ada waktu buat ngejenguk keluarganya yang lagi sakit, kan cuman sebentar," ungkap istrinya dengan wajah yang kusut merasa kecewa.
          "Yaa begitulah Bu orang sibuk ... oh iya Bu, Ibu nggak papakan, kalau aku tinggal dulu," ucap Pak Santoso sambil tersenyum.
          "Hmm, nggak papa kok, Pak. Yaudah Bapak yang hati-hati ya," ucap istrinya sambil tersenyum.
          "Yaudah Bapak pergi dulu ya, Bu, Assalamualaikum!" ucap Pak Santoso dengan gembira
          "Waalaikumussalam!" jawab Sang istri tersenyum sambil melihat Sang suami pergi.


###


           Di mobil Pak Santoso tidak pernah henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan Pak Herman. Ia pun memperhatikan kendaraan-kendaraan yang berlalulang, hilir mudik, berseliweran sembari memikirkan Pak Herman yang sedang terbaring di rumah sakit.
           Kurang lebih dari satu jam akhirnya Pak Santoso tiba di kota. Sebelum ke rumah sakit, Pak Santoso tidak lupa untuk membelikan Pak Herman buah-buahan, sebagaimana seringnya orang menjenguk. Setelah buah-buahan terbeli, akhirnya tibalah Pak Santoso di rumah sakit.
           Sesampainya Pak Santoso di rumah sakit ia bingung dan tak tahu dimana kamar Pak Herman, Pak Santoso mulai putus asa dan rasa penat bersemayam dalam dirinya, ia pun akhirnya duduk di lantai sembari menghela nafas getir.
           Namun tanpa disangka-sangka seorang dokter yang kebetulan barusan saja dari kamar Pak Herman, melihat Pak Santoso yang sedang duduk dilantai sambil memegang kantong yang berisi buah yang tadi dibelinya, lalu dokter itu mendatangi Pak Santoso.
           "Selamat siang Pak, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu.
           Seketika Pak Santoso terperanjat, lalu menatap dokter itu penuh akan rasa haru, bagaikan penyelamat dari rasa keputus asaanya, ia beranggapan bahwa usaha dan pengorbanannya ke kota untuk menjenguk Pak Herman di rumah sakit tidak berbuah kesia-siaan.
           "Maaf Pak saya lagi cari pasien yang bernama Pak Herman," jawab Pak Santoso dengan wajah yang sendu.
           Lalu dokter itu bingung dan bertanya kembali, "Pak Herman ... dari desa Kebun Sayur ya?" tanya dokter itu.
           "Iyah betul sekali, Pak," ucap Pak Santoso ceria.
           "Barusan saja saya dari ruangan, Pak Herman," ucap dokter itu tersenyum.
           Perasaan Pak Santoso bagaikan lumbungan padi yang menggunung, ia sangat bahagia akhirnya dapat menemui Pak Herman.
           "Kalau begitu tolong antarkan saya ke ruangannya, Pak!" pinta Pak Santoso ceria.
           "Ohya, mari Pak!" ajak dokter itu tersenyum.
           Akhirnya Pak Santoso bisa melihat wajah Pak Herman, namun Pak Santoso merasa sedih, melihat keadaan Pak Herman yang lemas dan terbaring kaku, lalu Pak Santoso bertanya kepada dokter mengenai penyakit yang diderita oleh Pak Herman.
           "Ohya Pak, mohon maaf kalau boleh tau, penyakit yang diderita oleh Pak Herman apa ya, Pak?" tanya Pak Santoso dengan tatapan sendu.
           "Pak Herman menderita penyakit darah tinggi dan sakit magh," ujar Sang dokter getir.
           "Kok bisa begitu ya pak?" tanya Pak Santoso terkesiap.
           "Yaa, mungkin beliau banyak pikiran, sehingga membuatnya tidak nafsu makan dan susah untuk tertidur," ujar dokter itu getir dan turut bersedih dengan apa yang menimpa Pak Herman.
           "Kasihan, Pak Herman," gumam Pak Santoso dengan tatapan sendu.
           "Yasudah, kalau begitu saya pergi dulu ya, Pak, permisi!" ucap dokter itu kemudian berjalan keluar.
"Iyah, Pak," ucap Pak Santoso.


###


           Enam jam Pak Santoso menunggu, sampai-sampai Pak Santoso tertidur di sofa ruangan rumah sakit, tidak lama kemudian akhirnya Pak Herman sadar dan membuka matanya lirih sambil menggerakkan badan perlahan-lahan, Pak santoso yang setibanya menyadari hal itu akhirnya terbangun dari tidurnya.
           Melihat Pak Herman yang kesulitan menggapai air minum di atas meja, dengan sigap Pak Santoso langsung mengambilkan air itu dan meminumkannya kepada Pak Herman. Mulanya Pak Herman bingung bercampur haru, pikir Pak Herman yang datang itu adalah Miko anaknya.
           "Miko kaukah itu, Nak?" tanya Pak Herman dengan suara yang serak.
           "Assalamualaikum Pak, saya Santoso, bukan Miko anak Bapak," jawab Pak Santoso tersenyum.
           "Santoso siapa?" tanya Pak Herman dengan wajah yang bingung.
           "Saya Santoso Pak, petani kebun tembakau, Bapak," jawab Pak Santoso tersenyum getir.
           Hati dan perasaan Pak Herman langsung tersungkur bagaikan terkena anak panah yang tajam, senyumnya kembali meredup ketika mendengar nama itu. Ia sangat malu terhadap Pak Santoso yang harus menjenguknya. Pak Herman lalu memalingkan wajahnya beringsut kemudian benih-benih air mata mengalir di pipinya.
           "Pak ini ada sedikit rejeki yang saya bawakan untuk, Bapak," ucap Pak Santoso sembari meletakkan kantong plastik yang berisi buah itu di meja.
           Pak Herman tak menggubris ucapan Pak Santoso, ia tak mampu membendung air matanya yang semakin deras berduyun-duyun. Wajahnya seperti tertampar halus, fisik tak merasakan namun hati merasakan.
           "Bapak kenapa menangis?" tanya Pak Santoso lirih.
           "Saya malu, Santoso," jawab Pak Herman getir.
           "Apa yang membuat anda malu, Pak?" tanya Pak Santoso kembali.
           "Saya malu, atas perhatian dan kepedulianmu pada saya ... saya hanya bos. Namun tak berguna!" ungkap Pak Herman kesal yang menggerutu dalam hati.
           "Tidak Pak, Bapak itu orang yang kuat," ujar Pak Santoso sembari memegang pundak Pak Herman.
           "Seandainya saja ibunya Miko masih hidup mungkin saya tidak akan seperti ini," ungkap Pak Herman lirih.
           "Bapak yang sabar ya, semua itu telah diatur oleh Tuhan. Tentu apa yang menjadi ketentuanya, itulah yang terbaik untuk, Bapak ... dan satu pesan dari saya Pak, didiklah Miko dengan didikan Rasulullah Saw, jangan terlalu memanjakan Miko, Pak. Didiklah ia dengan didikan agama, agar kelak dapat menjadi anak yang bermanfaat untuk Bapak dan orang-orang disekitarnya," ujar Pak Santoso tersenyum getir.
            Hati Pak Herman terketuk, ia baru sadar bahwa apa yang selama ini ia lakukan ternyata salah, ia hanya termenung, tertegun, bergeming, ketika mengingat masa-masa istrinya masih hidup. "Mira, aku rindu," ucap dalam hati Pak Herman getir.
           Dalam beberapa hari ini Pak Santoso begitu ikhlas dalam merawat Pak Herman, ia tidak pernah merasa dirugikan dalam urusan menolong sesama, Pak Herman selalu menatap Pak Santoso penuh kekaguman, ia tidak pernah menyangka bahwa masih ada orang yang berhati malaikat yang mau merawatnya siang dan malam. "Pak Santoso memang orang baik, dia betul-betul berhati mulia!" ungkap dalam hati Pak Santoso tersenyum getir.


###


           Satu minggu telah berlalu, Miko merasa ada yang kurang dalam kehidupannya, ia merasa kehilangan sosok yang selalu memberikanya perhatian padanya. Miko bosan tinggal dirumah seorang diri. "Aku rindu dengan Ayah," ucap dalam hatinya lirih.
           Disinilah Miko mulai berfikir bahwa ia masih memiliki satu orang tua yang tidak boleh ia sia-siakan, akhirnya Miko pergi kerumah pamannya yang bernama Pak Sunusi.
           "Paman, Paman, Paman!" panggil Miko menggedor-gedor pintu.
           "Iya, iya siapa?" tanya pamannya.
           "Aku Miko paman," jawab Miko sambil tergesa-gesa.
           "Eh tumben Miko datang kerumah sendiri biasanya sama, Ayah?" tanya Pak Herman ceria.
           "Ayah dirawat di rumah sakit, Paman," ucap Miko sendu.
           Seketika Pak Sunusi terkesiap, matanya terbelalak yang beriringan dengan degup dalam jantungnya berduyun-duyun.
           "Kamu kenapa nggak pernah bilang sama, Paman?" tanya Pak Sunusi sedikit memarahi Miko.
           "Saya minta maaf Paman, makanya saya datang kesini, mau ngajak paman ke rumah sakit," ujar Miko tertunduk lesu.
           "Yasudah, ayo cepat kita pergi ke rumah sakit!" ajak Pak Sunusi tergesa-gesa.
Miko sangat khawatir dengan keadaan Ayahnya. "Bagiamana ya keadaan, Ayah?" tanya Miko dalam hati sambil menoleh ke atas melihat awan yang mendung.
            Sesampainya Miko dan Pak Sunusi di rumah sakit Medika, mereka langsung bertanya kepada salah satu suster disana.
            "Suster, kamar Pak Herman dimana ya?" tanya Pak Sunusi tergesa-gesa.
            "Di lantai 2 Pak, mari saya antarkan," jawab suster itu.
            Pak Sunusi dan Miko berjalan tergopoh-gopoh menuju ke lantai 2, sesampainya mereka di depan pintu, perasaan Miko mulai tidak karuan, jantungnya berdetak dengan kencang. Ia merasa takut ketika masuk, Ayahnya malah menyuruhnya untuk pergi. Pak Sunusi yang menyadari hal itu, akhirnya berusaha menenangkan Miko dengan merangkulnya masuk ke dalam kamar.
            Pintu pun terbuka perlahan, suster itu kemudian mempersilahkan Pak Sunusi dan Miko untuk masuk. Gontai langkah Pak Sunusi dan Miko membuat perasaan Pak Herman dan Pak Santoso penasaran.
            Tiba-tiba Pak Herman dan Pak Santoso terkejut ketika melihat Pak Sunusi dan Miko masuk ke dalam kamar. Miko hanya tertunduk di rangkulan Pak Sunusi, ia tak sanggup apabila menatap mata Ayahnya, ia merasa sangat bersalah, karena tidak memperdulikan Ayahnya. Sementara Pak Herman menatap Miko kesal namun bercampur dengan rasa haru, ia tak menyangka ternyata Miko datang menjenguknya.
           "Assalamualaikum," sapa Pak Sunusi lirih.
           "Waalaikumusalam," jawab Pak Herman dan Pak Santoso bersamaan.
Tiba-tiba suasana hening
           "Apakah Ayah marah padaku?"
           "Apakah Ayah tak mau melihatku lagi?"
           Pertanyaan-pertanyaan tiba-tiba berkecamuk dalam benak Miko yang berprasangka.
           "Miko sini Nak, Ayah rindu!" panggil ayahnya getir.
           Mendengar suara sayup yang keluar dari mulut Ayahnya, membuat mata Miko terbelalak, tanganya bergemetar, nafasnya serasa naik turun dan jantungnya berdegup semakin hebat.
           "Miko ... itu ayah panggil!" ucap Pak Sunusi lirih.
           "Iyah, Miko kesini Nak, ayah kamu rindu sama kamu!" Panggil Pak Santoso tersenyum.
           Akhirnya Miko beralih pelan mendekat kepada Ayahnya. Semakin mendekat, semakin berguncang pulalah jantungnya, namun Miko tetap berusaha menahan gemuruh perasaanya di saat mendekati Ayahnya. Ketika Miko telah sampai di dekat Ayahnya, Pak Herman menatap Miko penuh rasa haru, tanpa ia sadari air matanya mengalir pelan menggores pipinya yang pucat.
           "Mikooo akhirnya kamu datang juga, Nak. Ayah rinduuu sekali sama kamu!" ucap Pak Herman menangis histeris sembari memeluk Miko.
           Miko pun akhirnya ikut larut dengan pelukan Ayahnya yang begitu erat, air matanya juga tak terbendung dan mengalir lebih deras mengguyur pipinya yang cabi.
           "Miko minta maaf, Ayah ... maafin, Miko!" ucap Miko menangis tersedu-sedu.
           Pak Herman dan Miko akhirnya menemukan arti kasih sayang yang sesungguhnya, pelukan Pak Herman membuat Miko mendekap semakin erat. Sementara Pak Santoso dan Pak Sunusi menjadi saksi kembalinya kebahagiaan yang sesungguhnya.


###


           Akhirnya mereka pun pulang membawa kebahagiaan yang tiada tara, Pak Herman dan Miko kini mendapatkan kebahagiaan itu, setelah terpisah selama berminggu-minggu.
           Pada keesokan harinya Pak Herman datang melihat perkembangan kebun dan perusahaan tembakaunya. Tanpa sengaja ia mendapati Pak Santoso yang sedang memanen daun tembakau bersama pekerja lainnya. Tanpa menunggu lama Pak Herman kemudian melangkahkan kaki menuju Pak Santoso.
           "Assalamualaikum, Pak Santoso!" sapa Pak Herman tersenyum ceria.
           "Waalaikumussalam."
           "Eh Pak Herman, bagaimana keadaanya, Pak?" tanya Pak Santoso tersenyum.
           "Alhamdulillah baik," jawab Pak Herman tersenyum.
           Para pekerja yang lain tercengang, heran sekaligus bingung dengan perubahan sikap Pak Herman sewaktu menyapa Pak Santoso penuh akan senyuman yang berbinar. Kemudian Pak Herman kembali berjalan menyusuri ladang tembakaunya sambil menyapa pekerjanya yang lain.
Kemudian salah satu pekerja langsung bertanya ke Pak Santoso perihal perubahan sikap Pak Herman.
           "Pak, Pak ko akhir-akhir ini sikap Pak Herman berubah drastis ya?" tanya pekerja itu.
           "Berubah drastis bagaimana maksudnya," jawab Pak Santoso tersenyum.
           "Saya heran loh Pak, biasanya Pak Herman yang saya kenal itu pendiam dan cuek sama orang," ujar pekerja itu dengan dahi mengkerut.
           "Syukurlah kalau Pak Herman sudah banyak berubah," ucap Pak Santoso tersenyum lirih.


###


           Malam pun tiba, sekaligus menjadi malam berkah yang Allah berikan kepada seorang hamba atas segala keikhlasannya, bertepatan pada pukul 07:00 terdengar ketukan pelan dari pintu rumah Pak Santoso.
           "Assalamualaikum, Pak Santoso?" sapa Pak Herman dan Miko hampir bersamaan.
           "Waalaikumussalam, eeh Pak Herman, ada Miko juga," jawab istri Pak Santoso terperanjat bahagia.
           "Pak Santosonya ada, Bu?" tanya Pak tersenyum lirih.
           "Belum pulang dari masjid Pak, tapi sebentar lagi nanti datang kok," ujar istri Pak Santoso.
           Dikejauhan nampak Pak Santoso yang berbaju muslim putih, mengenakan sarung hijau terang dan peci hitam di kepalanya, tengah berjalan dengan gontai langkahnya yang samar-samar sedang menuju ke rumah.
           "Assalamualaikum," sapa Pak Santoso lirih.
           "Waalaikumusalam," jawab Pak Herman, Miko dan istri Pak Santoso bersamaan.
           Sejenak Pak Santoso terkejut terheran-heran ketika mendapati Pak Herman dan Miko tengah duduk di kursi plastik merah miliknya. Ia tak pernah menyangka orang sekaya Pak Herman mau menduduki kursi yang berdebu itu. Pak Santoso pun langsung mendekat dan meraih tangan Pak Santoso lalu memeluknya bahagia.
           "Selamat malam Pak, apa kabar," sapa Pak Santoso gembira.
           "Alhamdulillah baik," jawab Pak Herman dengan tersenyum lebar.
Mereka semua akhirnya kembali duduk di kursi, tanpa menunggu lama Pak Herman langsung merogoh tasnya, kemudian mengeluarkan sebuah amplop yang berisi. Pak Santoso dan istrinya hanya saling melirik satu sama lain, mengerling diantara rasa penasarannya.
           "Ohya Pak Santoso, maksud dan kedatangan saya kesini, saya ingin memberikan sedikit rejeki dari hasil panen kemarin, Pak," ucap Pak Herman lirih, sembari meletakkan amplop itu perlahan di atas meja tepat di depan Pak Santoso dan istrinya.
           Pak Santoso dan istrinya semakin heran menatap amplop dan Pak Herman hilir mudik, jantung mereka pun berdegup dengan kencang.
           "Ini apa ya, Pak?" tanya Pak Herman terbata-bata.
           "Di dalam amplop itu ada sejumlah uang, yang bisa Bapak dan Ibu pergunakan untuk berangkat umroh, kan itu yang selama ini Pak Santoso inginkan," ujar Pak Herman tersenyum.
           Seketika jantung Pak Santoso dan istrinya berdegup semakin kencang, berkecamuk, menggebur-gebur berduyun-duyun. Pak Santoso dan istrinya saling menatap lirih hilir mudik. Senang, haru bersatu padu menjadi kebahagiaan yang tak disangka-sangka.
           "Tolong diterima ya, Pak, Bu," ucap Pak Herman menggeser uang itu semakin dekat di hadapan Pak Santoso.
           Pak Santoso pun kemudian perlahan ingin menyentuh amplop itu dengan tangan yang bergemetar, sesekali ia kembali menatap istrinya dengan mimik wajah yang tegang. Pak Santoso akhirnya menggapai uang itu dan memegangnya dengan nafas yang mendengus deras berturut-turut.
           "Saya merasa tidak sanggup Pak, apabila harus mendapatkan uang sebanyak ini," ujar Pak Santoso getir, lirih, dan gemetar di tangannya.
           "Sudah Pak, lagian uang ini memang berhak Bapak terima, anggap saja hal ini sebagai perbuatan balas budi saya ke Bapak yang telah merawat saya selama saya di rumah sakit," ujar Pak Herman.
           "Saya ikhlas Pak, dalam menolong, Bapak," ujar Pak Santoso.
           "Sudah Pak, tolong diterima ya, Pak," ucap Pak Herman memaksa.
           Pak Santoso pun tertegun, bergeming, ia tak pernah menyangka ternyata Tuhan mengabulkan doa-doanya selama ini, tanpa ia sadari mata yang sedari berkaca-kaca dan tak mampu menahan lagi luapan air mata, akhirnya mengalir deras berduyun-duyun di pipinya. Sang istri pun memeluk Pak Santoso penuh rasa haru, air matanya pun ikut mengalir dan membasahi pundak Pak Santoso.
           Pak Herman dan Miko tersenyum lirih merasakan kebahagiaan yang Pak Santoso dan istrinya alami. Pak Santoso dan istrinya kemudian beralih dari kursi yang ia duduki, lalu berlutut menghadap kiblat dan bersujud syukur.