Cerpen
Nama: Surianto Cahir
Nim: 862312019105
Prodi: Manajemen Pendidikan Islam

        "Allahuakbar, Allahuakbar ...."
        Malam pun berakhir. Suara adzan subuh terdengar merdu di kala sang fajar lirih memancar di antara hamparan padi yang berumur muda. Suasana dingin masih sangat terasa di kala embun pagi memutih memudarkan gunung Lantimojong dari kejauhan. Kokokan ayam jantan bersua saling bergantian, luntang-lantung, hilir mudik, simpang-siur di pedesaan. Yang artinya, waktu pagi akan segera tiba.
        "Assholatukhoirumminannauumm ...."
         Sholat lebih baik dari pada tidur.
         Mendengarkan lantunan lafadz adzan yang merdu, Ibu Nining terbangun melunglai, lalu membangunkan Pak Arman suaminya untuk sholat subuh secara berjamaah. Kemudian Ibu Nining juga menyuruh suaminya untuk membangunkan anaknya yang tertidur pulas.
         "Yah, coba bangunin, Adnan dulu ... barangkali dia mau ikut sholat," pinta Ibu Nining getir.
         "Sebentar, Bu," balas Pak Arman getir.
         Setelah selesai berwudhu, Pak Arman beranjak ke kamar Adnan untuk membangunkannya
         "Adnan, ayo bangun, Nak," pinta Pak Arman menepuk pundak Adnan.
         Namun Adnan tak menggubris Ayahnya, ia masih saja tertidur pulas, dengan posisinya yang menelungkup.
         "Adnan, ayo bangun," pinta Pak Arman yang tak hentinya berusaha membangunkan Adnan.
         "Malas," ucap Adnan dengan nada yang berat.
         "Kamu itu laki-laki tidak boleh malas-malasan, ayo bangun," ujar Pak Arman dengan menggoyang-goyangkan tubuh Adnan.
         "Iya, iya, Yah!" ucap Adnan kesal dan membanting guling.
         "Astaghfirullah," kejut Pak Arman lalu mengelus-elus dadanya.
         Kemudian Adnan keluar dari kamar menuju kamar mandi dengan langkah yang terhunyung-hunyung bagaikan orang yang mabuk, karena rasa kantuk masih bersarang di matanya. Tiba-tiba dengan tidak sengaja Adnan malah menabrak dispenser sehingga hampir saja membuatnya terjatuh. Pak Arman yang melihatnya, hanya tersenyum tipis dari balik kamar sembari menggelengkan kepala.
          "Adnan, Adnan ...."
Sesampainya Adnan di kamar mandi ia pun langsung menggayuh timbah di sebuah kendi dengan melunglai, terhunyung-hunyung. Kendi itu adalah milik Neneknya Adnan yang sudah lama meninggal, kendi itu sudah berumur puluhan tahun, nampak dari lumut-lumut yang menempel di pinggiran kendi itu.
          Akhirnya Adnan mengambil air wudhu, walaupun dengan cara yang tak biasa. Ia hanya menyiram kepala dan kakinya saja. Ibu Nining yang melihat itu hendak menegur Adnan, namun Ia kembali teringat dengan ucapan dari suaminya. "Bu, jangan buat Adnan, terburu-buru untuk mengetahui, biarkanlah dia mengetahuinya secara perlahan ... pelan-pelan saja, Bu, dalam mendidik, Adnan," ucapan itu selalu terngiang di kala Ibu Nining ingin menegur Adnan.
          Kemudian Adnan keluar dari kamar dengan penampilan yang berantakan serta mata yang masih rada tertutup. Pak Arman yang melihat Adnan dengan penampilan seperti itu akhirnya segera merapikannya. 
          Ketika Selesai sholat, tanpa bersalaman dengan Ayah dan Ibunya, tiba-tiba Adnan dengan sigap kembali beranjak ke kamar untuk melanjutkan tidur dan mimpi indahnya. Pak Arman dan Ibu Nining hanya menatap satu sama lain sembari mengerling.
          Ketika ia baru saja menghempaskan tubuhnya di kasur, tiba-tiba Pak Arman datang.
          "Adnan, kamu jangan tidur dulu," ucap  Pak Arman lirih.
          "Apalagi sih!" ucap Adnan berbalik menatap Ayahnya dengan wajah yang merangut.
         "Kita mau ke sawah dulu sebentar," kata Pak Arman.
         "Kok pagi banget, kan bisa kalau siang!" sambut Adnan merangut.
         "Kalau kita perginya siang, itu udah panas, pasti kamu tidak mau," kata Pak Arman tetap tersenyum.
         "Aaaaagh, Bapak ... ganggu orang mau tidur aja," ucap Adnan sambil bangkit dari tidur dan membanting guling yang kedua kalinya.
         Pak Arman hanya bisa tertegun, bergeming dan bersabar ketika melihat sikap Adnan yang malas-malasan seperti itu.
         Pagi yang cerah, embun membasahi rerumputan yang menghijau. Angin pagi menerpa pucuk padi sehingga membuatnya merunduk. Di antara hamparan sawah, Ibu Nining berjalan tergopoh-gopoh bergegas ke kebun di belakang rumah, untuk mengambil daun kelor. Daun kelor sendiri merupakan sayur yang sangat disukai Pak Arman, apalagi sedikit ditambahkan dengan daun kemangi.
         Ibu Nining semangat sekali pagi itu. Ia rela berjalan di atas tanah yang becek, menepi di antara padi-padi yang masih muda. Sesampainya di kebun, Ibu Nining memetik daun kelor itu dengan perlahan, satu demi satu tangkai daun kelor itu diambil olehnya, senyumnya nampak dari bibirnya yang merona.
          Pak Arman memang suka sekali menanam pohon kelor. Kegemarannya dengan sayur kelor, membuat Pak Arman selalu memulai sarapan paginya dengan porsi yang banyak.
          Tidak lama kemudian, Ibu Nining datang dengan kaki yang penuh akan tanah. Nampak di sela-sela jari kakinya terselip lumpur yang membuat kaki itu kelihatan kotor. Seikat daun kelor dan kemangi pun nampak di tangannya yang digenggam erat. Melihat itu, Pak Arman sangat senang, terlihat dari Pak Arman menatap istrinya dengan senyuman. Namun berbeda dengan Adnan yang nampak biasa-biasa saja.
          "Wah, enak tuh, Bu," Kata Pak Arman ceria.
          "Yaudah, Bapak tunggu dulu ya, Ibu masakin," ucap Ibu Nining tersenyum sipu.
          Tanpa menunggu lama, akhirnya sayur kelor sudah masak, aroma dari kemanginya sangat menggugah selera, memasaknya pun hanya butuh lima menit saja. Pak Arman yang menunggu di bawah rumah, sudah tak sabar lagi untuk segera menghirup kuah sayur itu. Setelah semua apa yang ingin dihidangkan telah siap, Ibu Nining langsung memanggil Adnan dan Ayahnya untuk sarapan.
          Pak Arman dengan sigapnya duduk sila dan mengajak Adnan dan Ibunya untuk makan bersama, dengan duduk melingkar di ruangan dapur yang beralaskan papan yang menghitam karena asap. Tak ada suara lain terdengar, melainkan hanya suara Pak Arman yang dengan sedap menghirup kuah sayur kelor. Pak Arman sangat menikmati hidangan dari istrinya, terbukti ketika keringat Pak Arman bercucuran karena sangking sedapnya hidangan di kala pagi itu.
           Adnan hanya memandang isi piring Ayah dan Ibunya mengerling, Nasi mereka semua tertutup oleh daun kelor, kemudian, Adnan juga memandang isi piringnya yang hanya berisi nasi dan sepotong ikan kering saja. Adnan merasa heran kepada Ayah dan Ibunya karena sangat menyukai daun kelor, ia pun memandang Bapak dan Ibunya menyantap makanan sembari menyuap makanan di mulutnya terheran-heran.
           Setelah sarapan selesai, Pak Arman nampak kekenyangan sekali, terlihat Pak Arman sedang mengipas dirinya dengan topi kerucut. Hari sudah mulai agak memanas, akhirnya Pak Arman bergegas untuk turun ke sawah bersama Adnan, dan begitu juga, seekor anjing belang coklat putih kesayangan Bapaknya, bernama Boy, yang selalu ikut kemana pun Pak Arman pergi. Ayah dan Anak itu berjalan beriringan sambil memikul cangkul dengan langkah pelan di atas tanah yang becek.
           Ibu Nining hanya memandang kepergian suami dan anaknya sembari tersenyum sipu, kemudian ia kembali masuk dan menyimpan sisa sayur kelor itu di bawah tudung makan. Sayur kelor itu tersisa semangkuk saja. Ibu Nining bahagia sekali ketika bersantap bersama keluarga, dengan gurihnya rasa sayur kelor dan wanginya daun kemangi yang ikut bercampur. Ada kebahagian tersendiri dari Ibu Nining ketika menghidangkan sayur kelor dikala bersantap pagi.
           Ketika langit sudah mulai berwarna orange, burung burung kecil berterbangan dari timur ke barat mengiringi hembusan angin sore di perkampungan. Waktu magrib sudah dekat. Adnan dan Pak Arman akhirnya kembali dari pekerjaan rutin mereka.
          Setelah  Adnan dan Pak Arman membersihkan tubuh dari keringat dan lumpur. Lantunan adzan magrib kini terdengar dan menggema di perkampungan, semua masyarakat nampak berbondong-bondong menuju masjid. Pak Arman yang merupakan pembantu imam akhirnya segera bergegas melangkah ke masjid. Adnan yang barusan saja selesai mandi dan tengah mengusap kepalanya dengan handuk di teras rumah.
          Tanpa sengaja, ia melihat Ayahnya yang berpakaian serba putih dan peci hitam di kepalanya menuju ke masjid. Adnan memperhatikan langkah demi langkah Ayahnya yang perlahan meninggalkan pekarangan rumah menuju masjid. Tiba-tiba, tergerak pula lah hatinya untuk ikut bersama Ayahnya ke masjid.
          Padahal selama ini, Adnan jarang sekali pergi ke masjid, namun kali ini ia berusaha melawan rasa malas-malasannya itu, dan mengingat betapa pedulinya Sang Ayah pada dirinya yang selalu membangunkannya di kala subuh.   
          Kemudian Adnan perlahan berjalan mengikuti Ayahnya. Sesampainya Adnan di depan masjid, ia berdiri dengan tegap dan menaruh tangannya di saku celana, Adnan memandang masjid tersenyum, angin dikala magrib menerpa wajahnya dan membuat rambutnya terurai.
          Setelah sholat magrib selesai, para jama'ah semua berpulangan. Begitu pula dengan Pak Arman dan Adnan yang pulang beriringan sambil bercerita di sepanjang jalan.
          "Kamu kelihatan gagah, Adnan," kata Pak Arman tersenyum menatap Adnan.
          "Ayah bisa aja," ucap Adnan tersenyum sipu.
          "Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah mau ke masjid, Adnan," ujar Pak Arman sembari memegang pundak Adnan.
          Senyuman yang tipis, nampak dari bibir Adnan yang merasa malu.
          "Yah, aku minta maaf atas sikapku yang tadi subuh," ucap Adnan menunduk.
          "Adnan, kamu itu anak. Ayah ... mana mungkin, Ayah tidak memaafkanmu, Nak," ucap Pak Arman sambil merangkul Adnan di pinggiran jalan.
          Tak lama kemudian, mereka berdua akhirnya sampai di rumah. Mendengar papan yang berbunyi dari luar, dengan sadar Ibu Nining mengetahui kedatangan mereka. Kemudian Ibu Nining langsung memanggil mereka untuk makan malam.  Adnan mencium aroma sedap dari sayur kelor masakan Ibunya, tanpa berlama-lama Adnan langsung bergegas masuk.
          Adnan kemudian duduk berdampingan dengan Ayahnya. Pak Arman nampak senang sekali malam itu, sampai-sampai peci yang dikenakannya miring, namun Pak Arman tidak menghiraukan itu, yang ia hiraukan sekarang adalah hidangan sayur kelor yang akan ia santap malam ini.
         Lalu Adnan kembali memandang sayur kelor itu di depannya. Ia semakin penasaran dengan rasa sayur itu, yang dapat membuat kebersamaan antara Ayah dan Ibunya.
         "Apa sih enaknya, sayur ini?"
         "Apa kelebihan sayur ini?" Adnan bertanya-tanya dalam hati sambil mengambil sendok dan mencoba mencicipi sayur itu untuk yang pertama kali.
         Adnan mengangkat sesendok sayur itu di tangannya. Lalu memandang sayur itu dengan jeli. Warnanya yang hijau bening, dengan aroma dari kemangi yang sangat menusuk hidung.
         "Sruuuup ...."
         Adnan menghirup kuah sayur itu sambil memicing. Adnan merasakan kenikmatan dari gurihnya kuah sayur itu ketika kuahnya menyeruak masuk ke tenggorokannya. Ayah dan Ibunya pun bertepuk tangan melihat cicipan pertama dari Adnan. Akhirnya, Adnan sudah mau mencoba sayur daun kelor.
        Adnan tersenyum memandang Bapak dan Ibunya. "Ternyata sayur kelor ini enak ... pantasan, Ayah selalu berkeringat ketika menghirup sayur ini," ucap Adnan dalam hati sembari mengerling memandang berseliweran senyuman dari Ayah dan Ibunya.
        Mereka akhirnya menikmati santapan malam itu dengan rasa cinta yang tiada tara. Pak Arman dan Ibu Nining sangat senang ketika melihat Adnan sudah mau ke masjid dan ikut bersantap dengan sayur kelor yang pertama kalinya.